Dibalik Indonesia Merdeka

Sesuai dengan judul serta tema yang membanjiri berbagai macam sosial media serta pembicaraan hangat masyarakat hingga suatu perayaan masal yang menjadi sebuah custom (adat) di seluruh pelosok Nusantara pada hari yang bersejarah ini, penulis mengangkat tema yang menurut penulis cukup kontroversial dan menjadi diskurs dalam kajian Ilmu Sosial. Seperti yang telah diketahui bahwa 72 tahun sebelumnya, tokoh-tokoh yang menurut parameter masyarakat berpengaruh dan juga sifat mereka yang berani dalam melepaskan diri dari belenggu penjajahan tengah mendeklarasikan sebuah pernyataan atas ‘proklamasi’ yang menandakan atas berakhirnya cengkeraman kolonialisme dan imperialisme yang menurut masyarakat dan tokoh-tokoh tersebut telah berlangsung selama kurang lebih 3,5 abad lamanya. Hal tersebut terdengar wajar dan seringkali kita mendengarnya pada masa duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Namun, nyatanya dibalik fakta-fakta bersejarah tersebut yang objeknya kita identifikasikan terhadap diri masing-masing sehingga pada akhirnya kita merasakan, terdapat beberapa kesalahan-kesalahan fakta historis yang perlu diperbaiki.

  • Indonesia dijajah selama 350 tahun lamanya. Fakta yang sudah beredar di seluruh masyarakat pelosok Nusantara baik beberapa golongan maupun etnis dan keberagaman-keberagaman yang ada pada strukturnya tidak mencegah mereka dalam menerima stigma kemerdekaan bangsa multikultural tersebut mengenai fakta negeri itu telah dijajah selama 3,5 abad atau 350 tahun. Apabila hendak memundurkan waktu pada saat peristiwa kedatangan bangsa-bangsa Eropa baik portugis maupun secara partikuler yaitu Belanda, sebuah negara di tanah nusantara belumlah terbentuk. Tanah nusantara hanya dipetakan melalaui berbagai macam kerajaan-kerajaan yang bahkan antara mereka terkadang seringkali melakukan perlawanan. Bagaimana kolektivitas masyarakat Nusantara tengah itu hanya sebatas daerah dan kerajaan bukan secara menyeluruh. Permasalahannya di sini tidak hanya pemikiran masyarakat saja yang beranggapan seperti itu, namun pemikiran tersebut semerbak hipnotis yang juga merangkul pemikiran-pemikiran pejabat dan tokoh-tokoh pada masa itu. Meski dinilai berhasil dalam menanamkan jiwa identitas bangsa pada tiap masyarakat, stigma tersebut tetaplah sebuah pemaparan fakta yang jelas-jelas sesat. Tolak ukur Indonesia tersebut dinilai melalui perjuangan-perjuangan menuju pemersatuan yang dimulai pada awal abad 20 namun belum terciptanya suatu kenegaraan yang utuh yang telah dijajah 350 tahun. Secara spesifik, kedatangan bangsa-bangsa Eropa mulanya berlabuh pada perairan daerah barat Indonesia dan di timur Indonesia melalui skema jalur sutera. Namun, kesenjangan temporal akan kejadian-kejadian tersebut menandakan terdapatnya deviasi pada kenyataan terjajah selama 350 tahun.
  • Indonesia telah mengalami proses pemersatuan sebelum proklamasi. Mengenai hal tersebut, perlu kita tarik kembali ke zaman pergerakan nasional pada abad ke 20 yang notabene menjadi tolak ukur persatuan dan kesatuan menuju Indonesia satu. Perubahan drastis proses perjuangan yang mulanya melalui fisik dan bersifat kedaerahan dan masih terdapatnya pemetaan sifat kolektivisme yang masih sempit menjadi sebuah pergerakan supranasionalisme melalui berbagai daerah di dataran Nusantara melalui diplomasi dan pembuatan partai politik. Terkesan integrasi tersebut merupakan suatu kesuksesan yang hakiki hingga mencapai puncaknya pada tahun pertengahan abad ke 20. Namun, integrasi yang dilakukan oleh para perwakilan dari tiap daerah melalui Kongres Pemuda yang digelar pada 1926 – 1928 belum mampu menciptakan suatu workable relation antar masyarakat dan hanya didominasi oleh beberapa budaya. Dapat disaksikan melalui Kongres Pemuda yang sebagian besar dihadiri oleh perwakilan daerah Jawa (Jong Java), daerah Sumatra (Jong Sumatranen Bond), dan Sulawesi (Jong Celebes). Hingga pembentukan BPUPKI sebagai persiapan tata negara dan komponen didalamnya masih seringkali didominasi oleh daerah tertentu yang mengakibatkan pemasukan nilai norma budaya daerah tersebut menjadi kualifikasi hukum dan komponen kenegaraan dan harus ditaati oleh seluruh pihak. Pihak dari kedaerahan lainnya yang mewakili tiap-tiap daerah menyetujuinya sebagai hukum universal dalam ruang lingkup nusantara, meski dalam prosesnya terdapat berbagai macam perubahan yang ada didalamnya. Dalam suatu harian koran, pernah dikemukakan bahwa UU di Indonesia sangat sekali terinspirasi oleh tata hukum di Jawa serta Perdanya. Sebab-sebab dari berbagai hal tersebut tentunya sebagai suatu negara yang daratannya terpisah-pisah oleh lautan sehingga menurunkan potensi akses antar daerah serta mobilitas sosial di Indonesia. Tercermin juga melalui sistem transportasi impor dan biaya transportasi yang menyesuaikga global sehingga pendapatan per kapita masyarakat tidak dapat menutupi biaya yang diperlukan dalam mencapai suatu mobilitas sosial yang tiap-tiap daerah akan terjaring suatu workable relation. Perlu diketahui pula bahwa model peradaban Amerika Serikat pasca revolusi kemerdekaan yang 2 abad lebih dahulu dibandingkan kemerdekaaan Indonesia, melalui berbagai macam konflik dan peperangan hingga terciptanya suatu integrasi yang kuat dan membentuk negara yang satu di bawah suatu tradisi budaya yang satu. Meskipun prosesnya terbilang cukup mengerikan melalui berbagai macam konflik berdarah, namun keadaan tersebutlah yang menjadikannya negara yang kuat dan kokoh.
  • Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi pluralisme dan multikulturalisme. Prestise Indonesia sebagai suatu negara yang multikultur dan plural sebagaimana tercermin atas ribuan budaya didalamnya, akan tetapi prosesi tata negara dan kaidah kenegaraan yang patut dipatuhi oleh seluruh pihak menjadi sebuah unsur yang mengikat. Mungkin saja Indonesia bergelar sebagai negara multikultur, namun nyatanya pemaksaan hukum pusat dan beberapa cukup menyimpng dalam pandangan budaya kedaerahan tertentu menjadikan daerah tersebut tersegregasi dari pembangunan pusat dan hanya digunakan sebagai bahan penelitian antropologi maupun sosiologi serta kajian budaya lainnya. Selain dari kondisi tersebut, kepala suku dan budaya yang partikuler tersebut menerima atas keadaan tersebut. Meski hubungan yang terjadi simbiosis mutualisme, seiring perjalanan waktu dengan pertambahan penduduk serta menipisnya SDA, daerah-daerah yang menjadi kediaman suku tersebut semakin menipis dan bahkan tempat tinggal mereka beralih ke tempat konservasi alam (ex. Suku Anak Dalam).

pivotal point di atas merupakan sebuah contoh fakta yang dimanipulasi hingga memunculkan pemikiran masyarakat atas Indonesia yang telah satu padu setelah masa-masa kolonialisme dan imperialisme. Nyatanya, pasca proklamasi kemerdekan terdapat banyak sekali aksi-aksi disintegrasi terhadap kenegaraan Indonesia. Hukum universal menjadikannya satu budaya Indonesia, bukanlah suatu sistem masyarakat yang multikultur. Berjalannya era globalisasi pada masa kini semakin membentuk suatu budaya baru yang bersifat dinamis dan harus diterima seluruh pihak dalam rangka bertahan hidup. Oleh karena itulah, negara Indonesia sebagai suatu negara plural belum dapat menjamin keberadaan workable relation antar budaya dalam mencapai integrasi yang sempurna.

Kompleks Superioritas Manusia

Manusia, sebagai spesies raja di keluarga primata serta sebagai spesies yang memiliki keunikan intelijensi serta kesadaran. Bagaimana sejak spesies tersebut menginjakkan kakinya di tanah planet permadani ini, perubahan besar telah terjadi. Rekonstruksi dan penggunaan berbagai macam kenikmatan yang telah disuguhkan di planet ini belum memuaskannya. Tanpa sadar tindakan-tindakan yang dilakukannya menyebabkan korban jiwa pada spesies-spesies  lainnya hingga menimbulkan kepunahan. Ya, kepunahan besar-besaran yang diakibatkan manusia mendorong posisi spesies tersebut sebagai raja di planet permadani tersebut. Seluruh ekosistem serta struktur interrelasi spesies berada di bawah kendalinya. Bagaimanapun, setiap spesies pasti menggunakan berbagai macam sumber dayanya dalam rangka pertahanan hidup, survival of the fittest. Namun, sadar tidak sadar akan hal tersebut menimbulkan suatu hal yang secara psikologis dapat bersifat destruktif terhadap kehidupan spesies secara keseluruhan. Dalam otak tiap insan manusia telah dibekali suatu skema yang bahkan tidak menjadi proses sosialisasi sejak usia dini. Manusia cenderung menganggap dirinya lebih hebat dibandingkan spesies lain, menimbulkan kompleks superioritas antar spesies.

Kompleks superioritas dikemukakan oleh Alfred Adler sebagai suatu konsep pemikiran yang dipenuhi akan kesombongan dan keegoisan yang diakibatkan dari tidak ada rasa inferior terhadap yang lainnya. Sehingga, suatu individu akan merasa lebih baik maupun lebih dalam suatu hal terhadap individu lainnya. Dalam otak setiap spesies homo sapiens, tanpa melalui sebuah proses sosialisasi, komplek superioritas antar spesies telah tertanam. Hal tersebut dapat diproyeksikan dalam kasus yang sering terjadi sehari-hari dalam kehidupan manusia. Kata-kata cacian dan makian pasti akan diidentikkan dengan nama-nama binatang. Bagaimana seseorang yang akan mencoba mencaci orang lain dalam beberapa kejadian beberapa atau sebagian besar akan mengeluarkan kalimat-kalimat yang mengidentikkan lawannya dengan seekor binatang. Contohnya adalah penggunaan binatang ‘anjing’ sebagai bahan cercaan. Konotasi tersebut di nusantara bertandakan suatu konotasi yang tidak baik menurut konsensus umum masyarakat. Sehingga dalam melakukan pencaci-makian, kata tersebut seringkali muncul di permukaan yang menjadi sebuah kata yang efektif dalam penghukuman lawan maupun pemancing amarah terhadap manusia tersebut. Namun sejatinya, spesies bernama asli ‘canis lupus familiaris’ tersebut bukanlah suatu cemoohan dalam dunia binatang. Spesies tersebut merupakan pendengar yang baik yang mampu menerima gelombang suara infrasonik sehingga dapat mendeteksi gerakan-gerakan kecil yang datang yang sangat berguna sekali dalam pemburuan mangsa. Selain itu, spesies tersebut terkenal akan persahabatannya dengan spesies manusia. Mereka seringkali dijadikan alat pelacak kejahatan oleh para polisi. Pengetahuan akan hal tersebut tidak mengurangi kompleks superioritas manusia yang tidak menerima akan identifikasi tersebut dan mengklasifikasikannya sebagai sebuah cacian.

Hewan lainnya yang sering muncul dan bersifat universal adalah ‘babi’. Spesies bergenus sus dan berkeluarga suidae tersebut merupakan sebuah cacian yang dianggap paling hina secara universal. Hewan tersebut memiliki perilaku yang ‘dianggap’ oleh manusia sebagai perilaku yang kurang bersih akibat seringkali berendam di lumpur. Padahal, spesies tersebut dalam melakukan perendaman di lumpur merupakan akibat dari kekurangan kelenjar keringat dalam tubuhnya serta menjadi akar ‘budaya’ dalam kehidupan mereka. Hal tersebut menyamakan struktur kulit mereka dengan kudanil dan paus. Di sisi lain, babi juga merupakan hewan yang haram dimakan dalam agama Islam dan seringkali tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an. Hal tersebut membuatnya menjadi sebuah spesies hina di mata manusia.

Hal yang sungguh mengherankan adalah sebuah spesies yang berkeluarga dengan manusia dan para homo sapiens tersebut menganggap hewan tersebut adalah suatu bahan cercaan. Spesies tersebut tidak lain adalah anggota-anggota primata selain manusia yang meliputi gorila, babon, kera, simpanse, monyet, orangutan, dsb. Secara garis besar mereka memiliki kesamaan fisik satu dengan lainnya, namun manusia masih menganggap identifikasi diri mereka dengan spesies-spesies tersebut merupakan sebuah cercaan yang cukup mematahkan perasaan mereka. Spesies yang menjadi ujung tombak evolusi kehidupan manusia sekarang ini, menjadi spesies yang sejatinya lebih inferior dibandingkan manusia itu sendiri.  Sehingga akibat dari kompleks superioritas tersebut mereka akan selayaknya dipandang ‘sebelah mata’ oleh para anak-anak mereka sendiri. Menimbulkan suatu perkara ekosistem yang masif, sehingga proses kepunahan spesies itu sendiri nyatanya diabaikan.

Masih banyak sekali hewan-hewan maupun tumbuhan yang dianggap sebagai sebuah spesies inferior dibandingkan manusia. Intelijensi dan kesadaran membuat kita ‘sombong’ terhadap spesies lainnya. Dalam prosesnya, hal yang bersifat repetitif tersebut mengakibatkan ketidakpedulian terhadap spesies lainnya sehingga kepunahan masal akibat manusia jumlahnya jauh lebih cepat dan masif dibanding zaman sebelumnya. Spesies yang kalah akan dikontrol oleh spesies yang menang, sehingga dinamika akan terhambat dan mengalami kemerosotan dalam perkembangan hidup spesies. Wilayah konservasi merupakan suatu wadah tempat atur para spesies-spesies yang kalah tersebut dalam ruang gerak yang sempit. Komplek superioritas yang terjadi merupakan hal yang natural, atas konsepsi manusia memenangkan pertarungan menuju ekosistem yang otoriter.

Di lain sisi, apakah yang akan terjadi apabila manusia telah menciptakan suatu sistem dan diimplementasikan sebagai suatu spesies hidup yang memiliki kecerdasan dan kesadaran yang sama layaknya manusia? Yang bahkan kemampuan kecerdasannya melebihi tingkat wajar manusia? Jika mereka sebagai spesies sadar akan hal tersebut, tidak ada jaminan bahwa manusia akan selamat di masa depan dan memenangkan pertarungan dalam memperoleh ‘kursi teratas’. Kejadiannya akan serupa dengan apa yang telah terjadi sebelumnya pada spesies primata selain manusia. Manusia akan ditelantarkan dan dipandang sebuah mata, hingga pengaturan ekosistem berada di tangan penguasa dalam menggubah struktur di planet permadani ini.

Artificial Consciousness, Social Consciousness

Dekade kemunculan manusia modern pada zaman holosen tepatnya 200,000 tahun yang lalu kerap menimbulkan perubahan pada planet yang dipijakinya. Spesies berjuluk Homo Sapiens tersebut memiliki porsi berat otak yang lebih besar dibandingkan spesies leluhurnya berserta keluarganya, baik primata dan hominid. Spesies bertulang belakang tersebut juga dipandang ‘unik’ secara universal sebagai kategori hewan dalam taksonomi biologi, serta mahluk hidup universal termasuk kategori tumbuh-tumbuhan. Keunikan dari spesies homo sapiens diantaranya memiliki apa yang disebut intelijensi dan kesadaran (consciousness). Melalui keunikan tersebut, spesies itu dapat merubah apa yang dipijakinya hingga membangun peradaban dalam planet Bumi. Bagaimana dapat kita ketahui melalui sejarah yang tertera dalam berbagai macam buku sejarah SMP hingga perguruan tertinggi, konsep manusia sebagai objek sejarah dan penggerak sejarah. Hingga pada saat ini, manusia dapat menciptakan objek sebagai perkembangan iptek serta replika intelijensi yang dimiliki spesies tersebut dirancang melalui teknologi buatan spesies itu sendiri. Emergensi dari hal tersebut menimbulkan permasalahan serius di mana keberadaan umat manusia dikhawatirkan akan punah oleh ‘tangan’ mereka sendiri. Namun, ada satu aspek dari manusia yang para replika intelijensi buatan mereka. Aspek tersebut dapat disebut sebagai kesadaran (consciousness). Bagaimana hal tersebut tidak dapat direplika?

Hingga dasawarsa terakhir pada abad ke 20, para ilmuwan hingga cendekiawan kerap membicarakan mengenai konsep replika kesadaran yang ternilai mustahil. Setelah ‘naik daun’ nya kesuksesan deep blue ciptaan IBM atas kemenangan terhadap seorang juara catur dunia menimbulkan argumentasi akan ketakutan intelijensi buatan dalam ‘membunuh’ manusia. Hingga para tokoh terkemuka Bill Gates, Elon Musk dan Stephen Hawking menilai intelijensi buatan merupakan ‘senjata makan tuan’. Namun hal tersebut kerap mengundang argumentasi kontra para cendekiawan, psikolog dan neuroscientist. Filsuf John Searle mempublikasi argumentasinya yaitu ‘Chinese Room Argument’ dimana ia menyatakan intelijensi buatan tidak cukup dalam mengartikan suatu simbol yang diajarkannya (semantik). Objek yang digunakan dalam penelitian saat itu adalah Mesin Turing yang cukup terkemuka membawa emergensi awal timbulnya intelijensi buatan. Pada dekade yang sama filsuf Giorgio Buttazzo berargumentasi “Walaupun teknologi mutakhir dapat berdiri sendiri, mereka tidak memiliki kreativitas, perasaan, maupun kehendak bebas. Sebuah komputer, layaknya mesin cuci hanyalah sebatas budak yang dioperasikan melalui komponennya”. Para komputer tersebut didesain hanya untuk efisiensi semata, mereka tidak sadar akan hal itu, mereka tidak tahu bahwa mereka diperbudak, mereka tidak memiliki kehati-hatian terhadap lingkungan sekitar, mereka tidak memiliki moralitas yang menjadi fundamental dalam peradaban kemanusiaan.

Pada tahun 2011, David Chalmers mempublikasikan karangannya di Journal of Cognitive Science yang berjudul A Computational Foundation for the Study of Cognition. Ia menuliskan teori yang bersifat ‘unorthodoks’ terhadap kalangan psikolog dan neurosaintis. Chalmers berargumen bahwa para komputer dapat memiliki kesadaran. Komputasi yang dilakukan para komputer dapat membaca sistem lain yang memiliki struktur organisasi sebab-akibat yang abstrak. Melalui pembelajaran terhadap pengalaman dan organisasi sebab-akibat abstrak, Chalmers menyatakan argumentasi kesadaran buatannya melalui argumen Qualia. Bagaimana kesadaran buatan melalui proses komputasi dapat dibuat melalui ilmu kuantum hingga biokimia. Proses-proses abstrak tersebut akan diserap sebagai informasi dalam penyimpanan di otak para komputer dan menciptakan kesadaran hingga mengikuti kebiasaan abstrak tersebut dan menciptakan ‘judgement’ sendiri terhadap konsep abstrak tersebut. Namun, hingga sekarang konsep tersebut masih belum dapat direalisasikan dalam pembuatan intelijensi buatan yang kerap terfokus dalam efisiensi produksi.

Efek Dari Kesadaran

Mungkin konsep dari kesadaran sendiri terbilang kompleks, dimana hal tersebut tercipta melalui apa yang disebut Neural Correlates of Consciousness (NCC). Dalam ilmu psikologi dan neurosains, kesadaran dan kehati-hatian masuk pada ilmu kognitif manusia. Kesadaran sendiri bersumber dari kehati-hatian terhadap fakta di sekelilingnya. Maksud dari kehati-hatian tersebut adalah fakta di sekitar dicerna melalui NCC dan kemudian terngiang persepsi terhadap fakta di sekitar. Jika ditinjau kembali, hal tersebutlah yang mendorong banyaknya pergeseran kepentingan, kriminalitas, ketidaksesuaian hingga perang dan konflik membanjiri prosesi manusia dalam membangun peradaban. Eksistensi dari kesadaran menciptakan apa yang kita kenal dengan Ideologi. Eksistensi tersebut membuahi pikiran pada Socrates, Konfusius, Plato, David Hume dalam mengembangkan persepsi mereka dalam fakta yang terdapat pada lingkungan sekitar. Dari sinilah ilmu pengetahuan muncul dan dilanjutkan oleh emergensi teknologi yang sangat dinamis.

Dari sini mungkin para pembaca bingung akan penciptaan kesadaran tersebut. Selain dari kompleksitasnya, kesadaran sangatlah hal yang tabu. Bukannya sebagai suatu senjata justru malah menjadi pemusnah terhadap satu sama lain. Tetapi, permasalahan mengenai bagaimana kesadaran pada insan manusia dapat mempengaruhi proses peradaban manusia di planet bumi tidak lain merupakan pengembalian mental manusia masing-masing yang menggenggaminya. Apakah mereka sebagai spesies di rantai teratas menggunakan kesadaran dan intelijensi sebagai alat dalam menyokong fondasi kemaslahatan umat manusia dalam interaksinya, atau menggunakannya sebagai penghancur fondasi dan peretak hubungan antar tiap manusia. Rasisme, contohnya merupakan suatu hal yang tercipta akan kesadaran. Melalui kesadaran atas lingkungan sektiar, otak akan memproses informasi yang masuk melewati tindakan-tindakan yang kemudian dicerna dan diklasifikasikan menurut fisik yang ada. Orang kulit hitam akan dicerna sebagai bangsa yang keras sedangkan orang Asia kan dinobatkan sebagai yang terpintar sesuai dengan keberadaan kelingkungan. Namun, melalui pengaturan informasi yang didapat kita dapat melakukan filter terhadap informasi yang masuk. Tidak berbeda halnya dengan Perbedaan perilaku dalam jenis kelamin. Bagaimana informasi yang masuk melalui tindakan sekitarnya akan menimbulkan stereotip. Kendala atas kedua hal tersebut merupakan akibat dari sejarah peradaban umat dan bagaimana sistem kepercayaan menyelimuti pikiran spesies manusia. Keinginan dan hawa nafsu yang mengendalikan proses pencernaan informasi menjadi hambatan kedua dikarenakan dalam rangka pencapaian tujuan sempit oleh beberapa kalangan. Yah, seperti yang kita tahu bahwa di suatu sosieta maupun yang lebih erat yaitu kelompok sosial, didalamnya masih dapat ditemukan klik dan kelompok yang lebih sempit bukan? Dan kita pun mengetahui bagaimana proses sosialisasi melalui kesadaran sekitar dilimuti oleh pribadi awal yang terbentuk oleh keluarga dan institusi primer sosial lainnya.

http://consc.net/papers/qualia.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Artificial_consciousness

http://www.rawstory.com/2016/03/a-neuroscientist-explains-why-artificially-intelligent-robots-will-never-have-consciousness-like-humans/

http://www.kurzweilai.net/the-problem-of-ai-consciousness

Dinamika dan Konsistensi

“Lu udah ga kaya dulu lagi, lu udah berubah sekarang…”

Kalimat di atas merupakan salah satu kalimat yang notabene membanjiri telinga sebagian besar manusia akibat dinamika. Dinamika yang dimaksud bukanlah perkara energi kinetik maupun perubahan arah dari fluida atau aliran listrik. Tidak berbeda dengan konteks ‘perubahan’, dinamika yang dimaksud meliputi perubahan bentuk, psikologi, pikiran manusia yang telah membentuk suatu peradaban yang pada akhirnya dapat mengkolonisasi suatu wilayah. Mengikuti alur spasial dan temporal, manusia telah memberikan elemen dalam hampir seluruh bagian dalam kehidupan sebagaimana statusnya sebagai ‘penggerak’ dan ‘perubah’.

Kalimat dinamika sangat kontras berbeda dengan konsistensi.

Konsistensi dalam kajian bahasa dapat disimpulkan sebagai ketetapan. Sifat yang bersifat tetap tidak memiliki perubahan dalam arahnya sebagaimana dijelaskan dalam mekanika (ukuran skalar). Konsistensi menurut aspek psikologis sangat bersifat konservatif, yaitu dalam perubahan spasial dan temporal tidak akan berubah dan menjadi sangat rekat dengan objeknya yaitu manusia. Konservatif yang bermakna melindungi atau melestarikan, sangatlah kontras dengan manusia yang dinamis. Akal dan Kesadaran yang menjadi sumber dinamisasi, tidaklah bersifat konservatif maupun konsisten. Kesadaran akan ketetapan akan mendorong akal menstimulasi apa yang dimaksud dengan Discovery, Invention, Innovation. Manusia melalui alat bantu tubuh akan mendorong penemuan melalui alam di sekitarnya. Melalui penemuan, manusia membentuk suatu komponen baru hingga para manusia lainnya memberikan penghargaan hingga menggunakannya sebagai alat bantu kehidupan. Tidak cukup menciptakan objek baru, manusia mengembangkan fungsi objek tersebut. Hal-hal tersebut mengalami siklus hingga pada akhirnya membentuk sebuah peradaban dalam kewilayahan.

Abstraksi kali ini mengangkat tema Dinamika dan Konsistensi, perihal inspirasi yang disokong melalui penelitian un-scientific penulis perihal kejadian yang seringkali menimpa baik penulis maupun individu lainnya. Bagaimana dinamika dan konsistensi dapat mempengaruhi kehidupan seorang seniman ataupun musisi. Bagaimana dinamika dan konsistensi mempengaruhi seorang produser film, atau selebriti. Dinamika dan Konsistensi mempengaruhi kehidupan manusia dalam ruang lingkup makro maupun mikro, sebagaimana manusia mempengaruhi peradaban di suatu wilayah.

Seringkali kita mendengar suatu kalimat yang menyatakan kecintaan seseorang terhadap suatu hal yang diliput melalui objek temporal. Kuno dan Kontemporer, Klasik dan Modern, Lama dan Baru merupakan rumpun kata yang sering tergabung terhadap suatu objek misalkan musik klasik, film modern, pakaian kuno, dll. Daun telinga kita menangkap gabungan-gabungan kata di atas melalui observasi terhadap objek yang pada saat itu memunculkan nilai keberhargaan terhadap objek. Misalkan :

“Wah, musik jadul keren banget dah. Dibanding sekarang yang kebanyakan sampah”

“Gw kan kalo beli baju ikutin trend bro, trend sekarang itu ajegile bro…”

“Weleh, Starry Nights masih jauh lebih keren dibanding Persistence of Memory ini…”

Ketiga kalimat tersebut menunjukkan bagaimana kehidupan pilihan sekarang sangatlah bergantung pada kondisi temporal. Tidak sedikit kita temukan individu melestarikan keris maupun kitab lama. Banyak sekali kita temukan individu mengoleksi kumpulan album musisi lama. Sebagian besar individu bahkan menyimpan lukisan klasik yang eksistensinya sekitar 2 sampai 3 abad yang lalu. Namun, di sisi lain keadaan jaman sekarang yang lebih kompleks telah meningkatkan popularitas seniman dan bisnis modern. Komunitas pecinta mungkin tidak se-masif sedia kala, tetapi popularitas melejit layaknya kecepatan cahaya. Kejadian-kejadian tersebut terlihat sepele, namun dampaknya secara makroskopis dan tidak langsung akan segera timbul.

Seniman yang merupakan seorang homo sapiens akan beradaptasi terhadap dinamika temporal dan spasial. Mau tidak mau, mereka dipaksa untuk melakukan perubahan yang berdampak serius terhadap popularitas mereka. Komunitas pendukung yang bersifat sangat mengagungkan konsistensi serta konservatif akan sensitif hingga menolak seni baru dan lebih mengagungkan seni lama. Seniman yang mengadopsi perubahan sebagian besar kehilangan pendukung lamanya, dengan memperoleh pendukung baru yang sifatnya cukup masif.

Dinamika dan Konsistensi sebagai konsep peradaban telah tergambar pada ideologi politik progresif dan konservatif. Meng-agungkan perubahan akibat desakan-desakan sosial modernisme mendorong pembentukan politik progresif. Sementara kecintaan terhadap folklor dan norma serta adat istiadat tertanam pada politik konservatif. Sifat keduanya bersifat sangat destruktif yang dapat meluluhlantahkan kebebasan atas perang dikotomi tanpa akhir. Dinamika dan Konsistensi telah meluapi bidang-bidang vital dalam pembentukan peradaban manusia tidak lain adalah agama, ilmu pengetahuan, ideologi dan kebudayaan. Proses asimilasi dan akulturasi sebagai bentuk dinamika mengalami problematika tersendiri terhadap sistem generalisasi yang menyimpang dari kepercayaan minoritas. Perbedaan pengambilan data empirik yang membanjiri ilmu pengetahuan atas konseptualisasi dinamika telah menyongsong konflik dalam pembentukan fakta duniawi. Dinamika dan Konsistensi menjadi hal yang tidak terpisahkan selayaknya Yin dan Yang. Yang hingga saat ini terus membanjiri peradaban manusia.

What Could Possibly Happen? : In the aftermath of Booming Artificial Intelligence

Current affairs on the drastically change in global society that had currently shaped by the existence of Technology brought a magnitude of flooding thoughts by social theorists, scientists and even politicians. Since the dynamic impact of the dotcom bubble in 1995, technology of interconnected global system has been reshaped human ways of thought and brought a larger magnitude of social assimilation. The Industrial Revolution from the middle 18th century had fundamentally reshaped human civilization. Social structure had been constructed, with the following discourse on political science and the creation of bureaucracy. Generally speaking, technology had its own place in most of our lives, controlling most of our behavior that indirectly reconciliate our thoughts of society.

Mainly talking about the impedding Artificial Intelligence, that had brought to earth in the aftermath of human innovations especially in the end of 20th century. International Business Machines Corporation (IBM Corp.) had introduced its own famous Artificial Intelligence that had been tested for defeating Master-Class chess Garry Kasparov with Deep Blue in a chess match. That wasn’t even the first installment of Artificial Intelligence in most of classical computers. It had been increasingly developed since 1957 by Carnegie Melon University but hasn’t even completed most of its atrocites in the development and never won a single match against Master-Class human chess champion. As for today, in the 2016 Google has introduced DeepMind AI that had its own victory  in the game of GO against a Human Champion of GO Lee Sedol. In the 2014, most of national defense was aiming to introduce non-pilot mini choppers for engaging foreign security agent to exploit victories in the upcoming unaffordable war events. This Artificial Intelligence had us thinking on the big frame of the future of human civilization. As some people consider AI and robots are increasingly taking most of human’s jobs and even daily chores. But in the possible advantages compared to humans, most of AI wouldn’t generate consciousness as its human counterpart.

In some cases, I’ve been found to be exposed in this surreal thoughts of the future by reading a lot of bizarre science fiction novels and also playing most of today’s generation games. For instance, a console game identified as ‘Horizon Zero Dawn’ made me rethink in the future civilization as it’s getting brighter or darker. Some point had been taken by the remaining humans acted collectively in the primordialist/tribal behavior inside the nature in the aftermath of a destroyed civilization. In fact it’s been shown to be natural by emerging growth of plants and animals by dehumanization of earth  (as the aftermath of chernobyl), as carbon emissions weren’t existed and earth has become colder. The earth was filled with robots by its own artificial intelligence who also had its own consciousness produced for the sake of individual economic profit. Does that clairvoyance would indulges and reflects to our civilization as well? The answer is yet very uncertain. Yet what would happen if consciousness were enacted in the form of complete artificial intelligence and perfect robotic anatomy?

Those cases were very complex to overcome. There would’ve been a huge mass extinction in the proceeding future of human civilization and even animals. We could call it robots that infringed upon our civilization would likely starts a new civilization by the compromise of its own consciousness and intelligence. For instances,  they will learn their own dogmas of generating more myths and religions while reshaping their own sciences that profoundly at least not so much different than humans have been taught today. But at some infringements of conflict by the sheer magnitude of wars by tribal thoughts would endorse more and more insisting ideas that they weren’t born by the creation of humans. They would’ve shaped their own ideology and beliefs that humans had always generated and divided. Generating new bureaucracy and political system would also add to the case of their constructed consciousness. And the most important part would have been their own creation of theoretical evolution from the dead bodies that mostly founded in the aftermath of human extinction. In fact, Robots would’ve encountered  many possible ancient ‘human’ tragedy by inflicting their consciousness of greediness. The conceptualization by evidence may haven’t been discovered, since my fundamental condition was adding the aspects of consciousness to the artificial intelligence that even most of us (including nobel prize winning-scientists) couldn’t actually understand its basic principle on how it has been comprised inside our brain.

This short-sighted frame of thoughts wasn’t necessarily complied to a single bound of scientific theory. As recently ‘not a study’ interviews by world-known of compelling scientists as its recipient with much further debate. The answer is pretty much uncertain, but most of the predictions resulted in positive outcomes. Artificial Intelligence is pretty much taking our jobs in the future decades, but it’s necessary for us to start research at new jobs available in the future by enacting more skills to gain the upper hand of productivity. In fact, most of labor unions wouldn’t keep quiet by the sky-rocketing numbers of robots that mostly takes their jobs.

As I unscientifically studied by reading a lot of news, 71% of modern entrepreneurs alongside with scientists are acturally stagging the industrial development of Artificial Intelligence. Prominent modern entrepreneur such as Elon Musk was also embedding his sight with overcoming takeover by cheaper production cost of Artificial Intelligence, as he strongly opposed it and gave a tip with ‘human must’ve merged with machines to compete in the overhauling future of AI’. Alongside with the world known theoretical physicist Stephen Hawking with his negativity towards the existence of Artificial Intelligence that believed could ‘end the human race’.

Further Readings :

http://www.collective-evolution.com/2017/03/14/scientist-warns-that-artificial-intelligence-will-create-a-world-without-consciousness-but/

The optimist’s guide to the robot apocalypse

http://www.cnbc.com/2017/02/13/elon-musk-humans-merge-machines-cyborg-artificial-intelligence-robots.html

http://www.bbc.com/news/technology-30290540

Ilmu Pengetahuan : Sebuah Dogma Empiris

Pernahkah anda berpikir, bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita tertuntun oleh kumpulan dogma-dogma keagamaan maupun seringkali menggunakan ilmu pengetahuan dalam rangka identifikasi lingkungan sebagai bentuk penelitian maupun adaptasi sosial? Dan apabila skema asumsi yang ditentukan telah tepat, apakah anda pernah berpikir kalau setiap ilmu pengetahuan yang telah dipelajari memiliki suatu pandangan idealistis terhadap apa yang mereka dambakan dalam kehidupan nyata akan sesuai dalam hipotesis mereka? Ilmu pengetahuan tidak lain adalah sebuah prinsip fundamental yang dinyatakan empiris tercipta atas akal sehat manusia. Bukankah hal terebut membuat para individu mengkaji dinamika dan struktur ilmu pengetahuan, mengakibatkan sebuah invensi-invensi populer yang membedakan manusia sebagai mahluk hidup yang berbeda secara ontologis dibandingkan lainnya.

Pengkajian ilmu-ilmu pengetahuan hingga saat ini tidak jarang menimbulkan degradasi moral akan kebeneran dalam rangka melindungi kepercayaan yang telah dipegangnya. Dalam Ilmu Fisika terdapat cabang-cabang yang justru berkonflik dengan tiap-tiap cabang, tak jarang menimbulkan konflik konstruktif. Mekanika Kuantum yang didesain sebagai cabang ilmu bergerak dalam bidang dinamika atom dan unsur terkecil lainnya (quark) tak jarang menciptakan konflik dengan Relativitas yang menggerakkan motor penemuan gelombang gravitasi serta potensi teknologi masa depan (Time Machine). Tak jarang pula teori-teori Klasik (Newton) menyulut konflik dengan cabang yang lainnya. Konflik yang terjadi mencoba merangkai serta membingkai konsep alam memperkuat struktur keilmuan didalamnya, perang ide dalam penentuan kebenaran merupakan suatu konflik konstruktif. Sadarkah kalau tiap-tiap cabang menciptakan suatu dogma yang menjerumuskan manusia terhadap ambiguitas alam semesta dan ordo-ordo rumus dari para ilmuwan fisika tersebut?

Dalam Ilmu Biologi terdapat pula sub-sub materi dalam tiap-tiap cabang yang terdifferensiasi. Konflik konstruktif yang sering dialami dalam ilmuwan biologi adalah penemuan mutakhir akan transformasi wujud DNA/rekayasa genetika dalam rangka menciptakan sebuah obat efektif terhadap berbagai macam penyakit mematikan. Dapat juga digunakan sebagai estetika tubuh, maupun meningkatkan status sosial (Bourdieau, 1979). Di Indonesia saat ini banyak sekali berita-berita penelitian medis yang menjauhkan manusia dari apa yang seharusnya dikonsumsi dan justru mendekatkan kepada apa yang dilarang oleh ahli-ahli medis. Kerangka-kerangka permasalahan medis yang koheren dengan ilmu biologi meningkatkan konflik dogma terhadap apa yang telah dipercayai sebagai suatu kondisi idealistis bilamana setiap bagian (biosfer, ekosistem, populasi, individu, sistem organ, organ, jaringan, sel, organel, molekul) memiliki nama itu sendiri dan harus dipercayai secara matang-matang?

Sebuah konsep secara instan dipercayai dalam rangka penambahan wawasan di bidang Ilmu Pengetahuan Alam, berbeda dengan sisi Sosialnya yang cukup distingtif. Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan sebuah kumpulan abstraksi empiris dalam rangka pengembangan kehidupan manusia tercipta atas berbagai macam filamen fundamental. Keabsahan teori Alam yang dapat dijabarkan melalui rumusan atas fakta-fakta yang ditemui sangat berbeda dengan teori Sosial yang memiliki variasi data berbeda di seluruh dunia. Kuantifikasi data-data sosial dapat berupa angka kelahiran, kematian, usia, pekerjaan atau dapat pula diidentifikasikan sebagai fakta sosial (Durkheim, 1895). Penjamahan atas rumusan dari fakta sosial menciptakan bidang-bidang Ilmu pengetahuan sosial yang hidup di alam dogma tersendiri.

Dalam Ilmu Ekonomi, perlu digaris bawahi jika Sistematika Perekonomian akan berjalan seperti mekanisme yang selancar-lancarnya 100% dalam rangka mencapai kemakmuran masyarakat yang dikehendaki. Dengan menggunakan asumsi (ceteris paribus), manusia bersifat rasional dan egois (Homo Economicus) menciptakan transkripsi atas dunia ideal yang mampu menjalin sistematika perekonomian yang diharapkan. Seringkali hal tersebut menghancurkan ekspektasi akibat seringkali menemukan ketidakcocokan data akibat beragamnya variabel yang dapat mempengaruhi eksistensi atas permasalahan ekonomi tersebut. Sebagai contoh kenaikan harga bahan pangan seringkali kita identifikasikan sebagai masalah fundamental terhadap kenaikan populasi serta penurunan bahan baku (Malthus, 1798). Namun, kondisi fisiografi, iklim dan tanah yang menjadi tidak subur seringkali melahirkan kekurangan produksi disertai akses infrastruktur yang minim. Menghasilkan dilema inflasi yang menjadi permasalahan fundamental perekonomian di berbagai negara.Hal tersebut bukanlah menjadi bagian penelitian dari seorang ahli ekonomi, melainkan klimatologi dan meteorologi. Keterikatan dengan dogma Ekonomi mengalihkan isu para ekonom akan mekanisme ideal atas suatu struktur.

Tak heran pula apabila Ilmu Sosiologi membingkai sebuah dunia ideal berdasarkan pola layaknya alam (teori naturalistis). Bantahan-bantahan dilontarkan kerap teori naturalistis mengeksklusikan kearifan akal dan perasaan manusia dalam membentuk tatanan interaksi dalam kewilayahan, memicu perkembangan pemikiran kualitatif akan manusia tidak hidup berdasarkan skema atau pola namun terdapat unsur free-will di dalamnya (teori humanistis). Hingga saat ini, cabang ilmu Sosiologi telah berkembang tidak jauh beda seperti perkembangan primat spesies homonid. Dan apa yang diterapkan dalam keilmuan sosiologi memiliki aturan sesuai dengan apa yang diasumsikan yang seringkali menimbulkan benturan-benturan implementasi dengan keadaan di realita. Konsep-konsep yang diajarkan tidak lain merupakan pengenalan atas kelahiran dogma pada tiap-tiap sarjana sosiologi maupun tiap orang yang mempelajari sosiologi.

Kegelisahan aktualisasi dogma-dogma yang berkembang dalam masyarakat mengakibatkan konflik-konflik yang memicu akan disintegrasi serta perang objektivitas dalam rangka memperoleh apa yang disebut dengan kebenaran. Ilmu pengetahuan yang diharapkan memberikan pencerahan kepada masyarakat dalam rangka menghancurkan dogma keagamaan justru tidak lain menciptakan benturan-benturan layaknya konflik antar paham keagamaan. Perbedaan yang mendasar adalah sikap disruptivitas ilmu pengetahuan yang menciptakan konflik konstruktif membangun sebuah dogma universal tanpa didasari akan kekerasan. Jarang sekali ataupun tidak pernah dijumpai 2 golongan melakukan tindak kekerasan akibat dari konflik ilmu pengetahuan atas ketidakterimaan disruptivitas. Hal yang menjadi aspek negatif dari Ilmu Pengetahuan dapat berupa penyalahgunaan yang berujung pada kekuasaan universal, menjadikan pelonjakan status sosial yang berujung pada apa yang dipercayai dengan “ketuhanan atas dogma empiris”.

Paradigma Negara Kesejahteraan

Negara Kesejahteraan atau yang sering disebut sebagai Welfare State merupakan suatu bentuk negara dengan pemerintahan yang mencanangkan berbagai macam kebijakan dan program yang dapat membantu akan pemenuhan kebutuhan material para masyarakat sehingga mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi. Kebutuhan yang dicukupi secara material berupa kesehatan, pendidikan, jaminan sosial serta tempat tinggal. Negara Kesejahteraam merupakan suatu term yang cukup populer diperkenalkan pada tahun 1940-an di Eropa, Inggris yang mulai mengimplementasikan Negara Kesejahteraan atas kemenangan Partai Buruh dalam pemilu tahun 1945. Hal tersebut dibarengi dengan negara-negara eropa yang mengimplementasikan negara kesejahteraan terutama Spanyol, Swedia, Jerman dan Perancis. Gerakan pembentukan negara kesejahteraan secara de facto ter-influensasi oleh Kebijakan The New Deal oleh Franklin D Roosevelt di Amerika Serikat atas antisipasi krisis ekonomi Depresi Besar. Publikasi karangan Keynes yang berjudul The General Theory of Employment, Interest, and Money memperkuat prinsip fundamental dari Negara Kesejahteraan.

Negara kesejahteraan dipandang menjadi sebuah gagasan akan kekuatan rakyat dalam memperoleh kesejahteraan melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan esensial dalam panorama pemerintahan yang menjadi sangat besar dan terkesan diktatorial mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam perihal tema pemerintahan, politik serta ideologi. Hal tersebut dikarenakan gagasan-gagasan yang menjadi hal utama negara kesejahteraan yaitu perencanaan kebijakan terhadap sistem kesehatan untuk seluruh rakyat, serta pendidikan, tempat tinggal hingga memperoleh tingkat standar kehidupan yang tinggi mampu mempersuasikan masyarakat hingga kebijakan tersebut dipercaya sangat kuat terhadap hantaman krisis yang akan terjadi di masa mendatang. Namun, setiap nilai perlu ada pengorbanan. Negara-negara yang menganut welfare state merupakan negara dengan tingkat pajak yang tinggi yang khususnya diberikan kepada para rakyat rakyat golongan atas. Kepercayaan akan terdapatnya golongan bawah (99%) yang perlu diperhatikan untuk memperoleh status yang sama dengan minoritas elit (1%) mengantarkan konsep negara kesejahteraan ini menjadi suatu konsep populisme. Tidak heran negara kesejahteraan ini juga diterapkan di Indonesia, dan menjadi suatu pamor politik bagi para kandidat pemerintahan di tanah nusantara. Namun, negara kesejahteraan di nusantara tidak sepenuhnya diterapkan perihal kebudayaan buruk yang menjadi masalah sosial laten di Indonesia yaitu KKN yang masih menjadi api yang dapat menyambar seketika.

Seolah-olah, kita melihat akan keajaiban sebuah negara kesejahteraan tersebut. Bayangkan saja para golongan masyarakat menengah kebawah diberikan tarif pajak yang sangat kecil, atau bahkan tidak dikenakan pajak. Dibalik dari kesuksesan negara kesejahteraan tersebut, realita yang berkembang merupakan penghapusan ‘de jure’ desentralisasi dan dekonsentrasi. Pemerintah pusat menjadi sangat besar sehingga kekuatannya tidak dapat dienyahkan. Kebijakan-kebijakan yang akan dicanangkan dipercaya memberikan dampak positif bagi rakyat melalui pemikiran-pemikiran kaum-kaum elit yang menjadi kandidat pemerintahan. Era baru elitisme berkembang pesat sehingga mereka menjadi peramal terhadap kebijakan yang tepat dan akan memberikan manfaat bagi masyarakat banyak. Permasalahan yang dapat ditoreh berdasarkan fenomena tersebut bahwa ‘manfaat’ yang berujung pada ‘kebaikan’ merupakan adjektiva yang bersifat subjekif dan sangat relatif diukur melalui moral. Para elitis yang menjalankan pemerintahan tidak memiliki data yang spesifik terhadap apa yang sebenarnya masyarakat inginkan serta kebaikan apa yang ditinjau menurut masyarakat itu sendiri. Seolah-olah masyarakat menjadi kumpulan dogmatis terhadap rezim elitisme yang konon merupakan bagian dari minoritas elit yang menjadi out group untuk mayoritas masyarakat. Hal tersebut mengeliminasi kekuatan otonomi daerah serta kebebasan para masyarakat perihal berbicara dan mengemukakan pendapat. Selain itu, alokasi fiskal yang berasal dari pajak akan dapat menjadi tidak efektif dan efisien apabila akses infrastruktur kepada daerah-daerah tertinggal sangat minim. Sehingga yang terjadi adalah para golongan minoritas mendapatkan distribusi kembali dari alokasi fiskal tersebut. Pajak yang tinggi terhadap minoritas elit menjadi sangat tidak efisien apabila mereka dapat menciptakan suatu loophole atau memanggil pengacara terbaik mereka untuk menghindari pajak. Hal tersebut menimbulkan ketidakefektifan kolektivitas pajak sehingga yang pada mulanya progresif terlihat menjadi sistem regresif. Para pengusaha-pengusaha kecil tidak mampu bertahan akibat kebijakan pajak yang tinggi. Menjerumuskan pada pertanyaan penting dalam kasus tersebut. Apakah para pekerja pemerintahan atau birokrat bekerja secara malas, tidak efisien dan tidak peduli? Tentu tidak!

Para pekerja pemerintahan bekerja sebaik mereka dan semampu mereka dalam menggapai mimpi akan kesejahteraan bagi tiap individu dalam masyarakat. Namun apa yang menghalangi mereka dalam bekerja hingga terjadi implikasi negatif dari ekspektasi yang diharapkan? Susunan institusional akan birokrasi dan administrasi dari pemerintahan yang berbelit-belit dalam penerapan sistem kesejahteraan menjadi halangan terbesar para pekerja pemerintahan untuk dapat menyelesaikan tugas secara efisien. Tidak perlu melihat jauh-jauh contoh dari kegagalan sistem birokrasi pemerintahan yang menerapkan kebijakan negara kesejahteraan. Di Indonesia, implementasi dari kartu kesehatan BPJS untuk memperoleh kesehatan yang layak bagi seluruh aspek masyarakat mendapatkan rating yang buruk (Konsensus Umum). Dan sebagian besar koresponden menyatakan masih adanya jurang antara yang kaya dan miskin serta masyarakat miskin belum mendapatkan akses kepada BPJS. Kegagalan alokasi dan distribusi serta susunan birokrasi yang berkala temporal menutup kesejahteraan yang seharusnya didapatkan masyarakat miskin. Di Amerika Serikat, konsensus umum menyatakan kegagalan terhadap sistem akses kesehatan yang dicanangkan melalui kebijakan Medicare, Medicaid dan Obamacare. Banyaknya kendala temporal serta ekspektasi akan terjadinya inflasi pada akses kesehatan menimbulkan banyaknya kritikan terhadap sistem akses kesehatan di Amerika Serikat.

Permasalahan fundamental yang mendasari akan kegagalan sistem negara kesejahteraan adalah meningkatnya tingkat ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah akan berbagai macam hal. Pemerintah akan dianggap sebagai pelayan yang dapat memberikan apa saja kepada rakyatnya. Gejala tersebut berimplikasi terhadap meningkatnya angka kemiskinan kultural yang disebabkan atas tradisi budaya malas serta menurunnya tingkat produktivitas. Kita dapat melihat setiap tanggal 1 Mei ribuan buruh berkumpul untuk menyuarakan kenaikan upah untuk pemenuhan standar kehidupan. Sedangkan tingkat produktivitas tiap buruh hanya meningkat sedikit dibandingkan rasio peningkatan upah tiap periode. Hingga konsensus umum menyatakan pemerintah gagal menciptakan kemajuan ekonomi dan mengimplikasikan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan, dimanakah peran sektor lainnya seperti ekspor dan investasi bisnis yang menjadi pamor pertumbuhan PDB dan menciptakan kekayaan riil kepada para pencari kerja sehingga berakibat pada kenaikan tingkat standar kehidupan?

Perlu ada revisi terhadap sistem negara kesejahteraan yang telah banyak diberlakukan di berbagai negara. Sifat ketergantungan masyarakat tanpa menciptakan produktivitas riil yang dapat menciptakan output yang dapat menetralisir peredaran uang yang cukup cepat akibat rentannya kebijakan moneter dan inflasi. Penurunan tingkat produktivitas dapat berimplikasi pula pada peningkatan  penggunaan teknologi yang memiliki biaya lebih murah serta lebih produktif dibandingkan tenaga kerja yang biayanya bervariasi dengan menghasilkan output kurang produktif.ftblog7121

Daftar Pustaka

http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/—asia/—ro-bangkok/—ilo-jakarta/documents/publication/wcms_343144.pdf