Kekuatan Sebuah Konsensus

Beberapa hari yang lalu penulis kerap membicarakan mengenai konsepsi keberadaan akal, dimana penulis secara frekuentatif menyinggung keberadaan norma, konsensus, dan hukum. Seperti yang telah diperbincangkan sebelumnya, akal manusia dibatasi oleh keberadaan-keberadaan apa yang dinamakan suatu konsensus. Dalam artian, konsensus itu sendiri memiliki pengaruh serta peran yang cukup masif dalam membangun struktur kolektif masyarakat. Sehingga pada kesempatan kali ini penulis akan lebih mendalami makna konsensus serta efek dari keberadaan suatu konsep yang disebutkan.

Konsensus merupakan suatu wadah yang berisikan pemikiran-pemikiran sekumpulan manusia yang heterogen kemudian melalui beberapa gubahan mengalami penyatuan dan lebih homogen (Durkheim, 1895). Konsensus merupakan suatu abstrak yang membentuk pola kepribadian yang kerap akan meningkatkan kohesi interaksi antar manusia dalam lingkup kolektivis. Keberadaan konsensus dalam lingkup kolektivis manusia berperan dalam menanamkan suatu abstrak lanjutan berupa nilai yang berfungsi dalam menanamkan harapan umum dalam satu kesatuan kumpulan manusia. Kemunculan konsensus disebabkan oleh heterogenitas falsafah berpikir tiap manusia serta heterogenitas kultur atau budaya yang membentuk kepribadian manusia yang berbeda-beda sehingga dalam proses penyatuannya diperlukan suatu kaidah yang kerap disetujui oleh seluruh pihak manusia terkait. Tampak dari definisi konsensus hingga peran dan pengaruhnya dalam manusia terlihat membawa angin segar serta kenyamanan dalam kohesivitas interaksi antar manusia. Namun, keberadaan konsensus yang telah membentuk nilai kolektif hanya akan menjadi batasan dalam tiap manusia serta pembentuk skema-skema pandangan terhadap kejadian yang berada di kasat mata yang acap kali menimbulkan apa yang disebut stigma dan paradigma.

Stigma merupakan suatu keadaan dimana kumpulan manusia kolektif memandang suatu nilai baru dan memberi label negatif akibat dari ketidaksesuaian terhadap nilai yang dimaksud atau nilai tersebut hendak memberikan kehancuran bagi struktur kolektif yang telah dikonstruksi. Paradigma, merupakan suatu perbedaan pandangan tiap manusia yang disebabkan oleh perbedaan konsensus pembentuk kepribadian. Kedua hal tersebut merupakan keadaan yang disebabkan oleh keberadaan konsensus. Akibat dari adanya hal tersebut, tiap manusia berupaya dalam menciptakan suatu konsensus yang dapat merangkul seluruh elemen konsensus yang telah ada, yang disebut-sebut sebagai konsensus umum.

Keberadaan konsensus umum, terdengar sebagai suatu terobosan akhir yang menjadi pemberhenti di ujung jalan, menjadi mercusuar bagi para manusia untuk bertindak. Namun, lagi-lagi keberadaan konsensus umun telah merekonstruksi seluruh tatanan pandangan yang telah terkonstruksi dalam manusia dan bersifat turun-temurun secara generatif. Semua hal yang terkandung mengenai pandangan terhadap moralitas baik dan jahat, maupun benar dan salah, terekonstruksi di dalam suatu konsensus umum. Tidak hanya itu, pandangan-pandangan yang bermakna subjektif akan kerap dipercaya sebagai suatu objektivitas, dikarenakan tiap-tiap manusia mempercayainya sebagai suatu hal yang bersifat demikian.

Untuk mempermudah, penulis akan memaparkan berbagai contoh terkait mengenai bagaimana konsensus umum merekonstruksi nilai serta skema pandangan yang tercatat di kepala manusia. Contoh yang pertama adalah indah dan jelek. Tiap-tiap manusia telah mengilhami kepercayaan terhadap kedua hal tersebut sebagai hal yang kontras dan memiliki karakteristik tertentu yang membangun kedua nilai tersebut. Postur tubuh yang gemuk akan diidentikkan dengan kejelekan, paras wajah yang sedemikian rupa akan dianggap sebagai suatu atribut keindahan, dan sebagainya. Proses aglomerasi karakteristik yang dinilaikan melalui konsensus umum, akan mengakibatkan hal sedemikian rupa sehingga tiap manusia memiliki skema pemikiran dan pandangan terhadap suatu hal yang dilihatnya dan dapat diidentikkan diantara kedua hal tersebut. Akibat dari keberadaan hal tersebut, para manusia acap kali memperbaiki penampilannya sedemikian rupa agar diidentikkan sebagai suatu keindahan, dan keindahan yang dimaksud merupakan keindahan yang terstruktur dalam konsensus umum. Dekade terakhir, terdapat beberapa suara yang menjunjung tinggi perbedaan dalam penampilan serta konsensus indah dan jelek merupakan penilaian terhadap diri individu manusia masing-masing. Sayangnya, konsensus umum lagi-lagi tidak memperhatikan pendapatnya dan kerap tiap manusia masih memiliki skema terhadap suatu hal yang dianggap indah atau jelek. Kelompok tersebut pada akhirnya tersegregasi dari mayoritas. 

Contoh kedua adalah baik dan jahat. Kedua hal tersebut yang menjadi suatu moralitas umum di masyarakat tengah terkotak-kotakkan oleh keberadaan konsensus umum di masyarakat. Setiap kegiatan yang bernilai baik merupakan konstruksi nilai masyarakat serta kegiatan yang bernilai jahat merupakan keadaan yang tidak diinginkan maupun tidak sesuai dalam kaidah konsensus masyarakat. Sikap empati dan simpati terhadap orang-orang kecil akan diklasifikasikan sebagai kebaikan. Kontras dengan sikap pembunuhan serta berzina yang diklasifikasikan sebagai suatu kejahatan. Kedua hal tersebut merupakan kerangka kontekstual yang sangat mempengaruhi kepribadian manusia kedepannya. Moralitas tersebut memberikan pengaruh yang cukup masif dalam kehidupan manusia kolektivis.

Rapih dan berantakan merupakan nilai yang dimotori oleh konsensus. Kuat dan lemah merupakan skema pandangan yang juga dimotori oleh konsensus. Bersih dan kotor juga merupakan hasil dari konsensus. Hampir setiap kata yang berjenis sifat atau adjektiva memiliki definisi-definisi yang dimotori oleh keberadaan suatu konsensus. Sehingga peristiwa-peristiwa tersebut memberikan suatu pandangan yang telah diingat oleh saraf-saraf dalam otak sehingga manusia sudah tidak terheran kembali apabila hendak menilai suatu hal yang berada disekitarnya. Dan konsensus-lah yang menciptakan segala macam hal tersebut, hingga pada akhirnya muncul keadaan meng-objektifkan setiap hal yang subjektif.

Advertisements

Akal : Anugrah atau Bencana?

Manusia, sebagai spesies raja di planet bumi dan tata surya telah menampakkan kehebatan-kehebatannya melalui teknologi dan persenjataan yang canggih. Perkembangan IPTEK abad ke 21 yang masif dan terus menerus menggambarkan tidak ada satupun spesies di bumi dan tata surya yang mampu menandingi kemahabesarannya. Tak luput dari hal tersebut, perkembangan-perkembangan yang masif telah mendorong manusia untuk dapat menciptakan sesuatu yang kendati diluar dari batas kemampuan yang dimiliki. Sebuah akal yang merupakan bagian fundamental dari seluruh kegiatan manusia hingga kesadarannya dalam berperilaku dan mengambil keputusan telah diciptakan secara buatan, oleh tangan para spesies yang juga mengemban hal tersebut. Problematika yang mengapung pada lautan abad ke 21 kali ini adalah apakah akal sebagai sebuah konsep yang abstrak merupakan suatu mahakarya maupun bencana?

Akal merupakan suatu konsep abstrak yang terrangkum pada kegiatan masif yang terjadi pada organ kepala yaitu otak. Akal berisikan tentang segala sesuatu hal yang mendasari kegiatan manusia. Dapat digambarkan melalui sebuah pusat pengendali pilihan dan kegiatan manusia dalan masa kehidupan di planet bumi. Namun, kegiatan akal dalam merekonstruksi pilihan dan tatanan kompleksitas kegiatan yang terjadi dibatasi oleh kepercayaan moralitas dan heterogenitas nilai yang dianut masing-masing individu homo sapiens. Keberadaan konsensus, norma, dan hukum secara tidak langsung telah membatasi pergerakan akal pikiran dalam berkegiatan sehingga hal tersebut tidak dapat ‘digunakan’ sepenuhnya.

Keberadaan sebuah mahakarya ini telah memunculkan pertanyaan terhadap eksistensinya di dalam diri tiap manusia. Paradigma yang tercipta apakah sebuah mahakarya ini merupakan bentuk dari anugerah Tuhan YME atau sebuah bencana massal yang dapat menghancurkan spesies itu sendiri. Kendati demikian, problematika mengenai sebuah anugrah maupun bencana menjadi suatu hal yang tabu, mengingat eksistensinya sebagai anugrah maupun bencana menimbulkan polarisasi yang diakibatkan akal itu sendiri. Polarisasi yang diakibatkan oleh moralitas tiap insan manusia yang dituntun melalui mercusuar kepercayaan dan hukum. 

Hal yang menarik dan perlu diperhatikan disini adalah segala macam konsensus, norma, hukum yang diciptakan oleh sekelompok individu kolektif tersebut justru menghambat perkembangan akal manusia dalam menentukan pilihan kedepannya. Hal-hal tersebut yang merupakan landasan peraturan manusia tidak lain didasari oleh falsafah dualitas moral yaitu perkara ‘benar’ dan ‘salah’, ataupun ‘baik dan ‘jahat’. Segala macam kegiatan akal yang terklasifikasi menjafi salah satu diantara keempat hal tersebut dilandasi oleh sebuah kepercayaan yang muncul pada insan manusia dan berkembang, sejauh menoreh suatu kaidah yang ditetapkan dan kemudian dijadikan konsensus oleh umat manusia sehingga terciptalah norma dan hukum. Akal, disisi lain sebagai suatu konsep abstrak jauh memiliki falsafah yang tidak dapat digambarkan secara detail oleh insan yang memilikinya itu sendiri. Bagaimana tidak, akal memiliki aturan kaidah falsafah yang jauh sangat berbeda dan diluar batas moralitas baik atau jahat maupun benar atau salah. Akal memotori kegiatan yang dianggapnya sesuai dengan manusia yang dipegangnya. Akal memolarisasikan falsafah moralitas tiap tiap insan manusia yang berbeda, sehingga problematika moralitas perlu ditelaah ulang melalui 7 milyar konsepsi baik atau jahat dan benar atau salah yang memiliki perbedaan cukup masif. Akibatnya adalah tiap-tiap manusia yang memiliki akal akan berusaha menghancurkan yang lainnya, baik dalam fisik maupun non fisik. Dikarenakan oleh polarisasi moralitas yang disebabkan oleh akal, sehingga ketidaksesuaian mendorong pada destruksi massal spesies yang dipijakinya

Penciptaan akal itu sendiri merupakan suatu hal yang sungguh tabu. Dalam artian tiap pencipta yang menciptakan sebuah akal harus dapat merekognisi akan mahakarya tersebut menjadi sebuah bencana maupun senjata pada pencipta mereka sendiri. Hal tersebut dapat digambarkan melalui kondisi saat ini. Yaitu adalah banyaknya manusia yang tidak memiliki suatu kepercayaan, norma, maupun hukum yang dipegang. Mungkin hal tersebut terdengar buruk terutana bagi insan manusia yang mempercaya konsensus, namun apa yang dilakukan oleh insan tersebut menggambarkan apa yang akal lakukan. Akal menuntun kita untuk membunuh, berzina, minum-minuman keras, dan sebagainya. Namun akal juga menuntun kita untuk memiliki rasa simpati dan empati terhadap insan manusia maupun spesies lain. Akal juga menuntun manusia untuk menjadikan dirinya seorang yang tidak beragama. Sehingga timbul suatu pertanyaan besar 

Mengapa Sang Pencipta menaruh sebuah konsep abstrak berupa akal, jika Ia memang hendak untuk diagung-agungkan maupun dituruti perintahnya? Padahal, suatu hal yang diciptakannya justru menjadi sebuah hambatan bagi dilaksanakannya tiap perintahNya dan mendekatkan diri pada laranganNya?? 

Dengan akal, manusia mempertanyakan segala perihal mengenai mekanisme yang telah terstruktur di bumi, tata surya, hingga alam semesta. Dengan akal, manusia mempertanyakan eksistensi Sang Pencipta itu sendiri. Dengan akal, manusia mempertanyakan eksistensi hukum universal dan moralitas umum. Dengan akal, manusia mampu melewati batasan-batasan kemampuan yang mereka miliki. Dengan akal, manusia mampu merekonstruksi planet yang dipijaki demi kemaslahatan umat. Dengan akal, manusia mampu menciptakan akal buatan, yang diperkirakan berdampak pada kepunahan manusia sebagai pencipta itu sendiri.

Dekade belakangan, telah banyak penelitian yang menuai konsep penciptaan akal buatan dalam efektivitas dan efisiensi kerja. Sebagai dekade revolusi industri keempat, pengembangannya telah menciptakan kemajuan-kemajuan serta perkiraan masa yang dihadapi ketika pengendali tidak mampu dalam mengendalikan mahakarya tersebut. Sehingga apa yang terjadi adalah srbuah bencana, bagi para pencipta akal buatan tersebut.

Sebuah Kontemplasi

Apa guna hidup dalam tata keduniaan yang baik secara saintifis maupun religius akan fana pada akhirnya?

Yang menolak manusia dalam menjumpai dimensi selanjutnya sehingga terperangkap dalam relung waktu serta ketiadaan yang bersifat hakiki menghapus segala bentuk kerja dan peristiwa yang faktanya terjadi pada sekarang menuju sebuah hampa. Kerja keras seorang semut dalam menoreh nasi hingga pasokannya sebelum masa-masa kritis Sumber Daya Alam hanyalah sebuah peristiwa yang pada akhirnya akan fana. Kekayaan Mansa Musa yang didapat dari hasil kerjanya menumpuk emas di Afrika pada akhirnya akan hilang serta tidak ada lagi individu yang mengetahui hal itu.

Apa sebenarnya yang mendorong manusia mengejar hidup dan mengundi nasib pada dunia ilusi ini? Apabila kejadian-kejadian besar di masa yang akan datang baik kepunahan manusia maupun pemusnahan masal terjadi kapan saja dan dimana saja.

Untuk apa kita menghabiskan seluruh sisa dan tenaga yang merusak dalam ilusi kebahagiaan dan kesejahteraan ini? Bekerja habis-habisan dalam penghidupan seseorang yang disayangi maupun dalam pemenuhan kebutuhan dirinya sendiri yang pada akhirnya akan hancur lebur diikuti segala jasmaninya.

Mengapa insan manusia tidak pernah berhenti dalam mengejar urusan ini hingga mereka tidak menyisakan waktu untuk berkontemplasi secara sains maupun religi dalam menghadapi segala macam hal yang dapat memusnahkan mereka dan membawa bekal sebelum pada akhirnya fana?

Dibalik Indonesia Merdeka

Sesuai dengan judul serta tema yang membanjiri berbagai macam sosial media serta pembicaraan hangat masyarakat hingga suatu perayaan masal yang menjadi sebuah custom (adat) di seluruh pelosok Nusantara pada hari yang bersejarah ini, penulis mengangkat tema yang menurut penulis cukup kontroversial dan menjadi diskurs dalam kajian Ilmu Sosial. Seperti yang telah diketahui bahwa 72 tahun sebelumnya, tokoh-tokoh yang menurut parameter masyarakat berpengaruh dan juga sifat mereka yang berani dalam melepaskan diri dari belenggu penjajahan tengah mendeklarasikan sebuah pernyataan atas ‘proklamasi’ yang menandakan atas berakhirnya cengkeraman kolonialisme dan imperialisme yang menurut masyarakat dan tokoh-tokoh tersebut telah berlangsung selama kurang lebih 3,5 abad lamanya. Hal tersebut terdengar wajar dan seringkali kita mendengarnya pada masa duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Namun, nyatanya dibalik fakta-fakta bersejarah tersebut yang objeknya kita identifikasikan terhadap diri masing-masing sehingga pada akhirnya kita merasakan, terdapat beberapa kesalahan-kesalahan fakta historis yang perlu diperbaiki.

  • Indonesia dijajah selama 350 tahun lamanya. Fakta yang sudah beredar di seluruh masyarakat pelosok Nusantara baik beberapa golongan maupun etnis dan keberagaman-keberagaman yang ada pada strukturnya tidak mencegah mereka dalam menerima stigma kemerdekaan bangsa multikultural tersebut mengenai fakta negeri itu telah dijajah selama 3,5 abad atau 350 tahun. Apabila hendak memundurkan waktu pada saat peristiwa kedatangan bangsa-bangsa Eropa baik portugis maupun secara partikuler yaitu Belanda, sebuah negara di tanah nusantara belumlah terbentuk. Tanah nusantara hanya dipetakan melalaui berbagai macam kerajaan-kerajaan yang bahkan antara mereka terkadang seringkali melakukan perlawanan. Bagaimana kolektivitas masyarakat Nusantara tengah itu hanya sebatas daerah dan kerajaan bukan secara menyeluruh. Permasalahannya di sini tidak hanya pemikiran masyarakat saja yang beranggapan seperti itu, namun pemikiran tersebut semerbak hipnotis yang juga merangkul pemikiran-pemikiran pejabat dan tokoh-tokoh pada masa itu. Meski dinilai berhasil dalam menanamkan jiwa identitas bangsa pada tiap masyarakat, stigma tersebut tetaplah sebuah pemaparan fakta yang jelas-jelas sesat. Tolak ukur Indonesia tersebut dinilai melalui perjuangan-perjuangan menuju pemersatuan yang dimulai pada awal abad 20 namun belum terciptanya suatu kenegaraan yang utuh yang telah dijajah 350 tahun. Secara spesifik, kedatangan bangsa-bangsa Eropa mulanya berlabuh pada perairan daerah barat Indonesia dan di timur Indonesia melalui skema jalur sutera. Namun, kesenjangan temporal akan kejadian-kejadian tersebut menandakan terdapatnya deviasi pada kenyataan terjajah selama 350 tahun.
  • Indonesia telah mengalami proses pemersatuan sebelum proklamasi. Mengenai hal tersebut, perlu kita tarik kembali ke zaman pergerakan nasional pada abad ke 20 yang notabene menjadi tolak ukur persatuan dan kesatuan menuju Indonesia satu. Perubahan drastis proses perjuangan yang mulanya melalui fisik dan bersifat kedaerahan dan masih terdapatnya pemetaan sifat kolektivisme yang masih sempit menjadi sebuah pergerakan supranasionalisme melalui berbagai daerah di dataran Nusantara melalui diplomasi dan pembuatan partai politik. Terkesan integrasi tersebut merupakan suatu kesuksesan yang hakiki hingga mencapai puncaknya pada tahun pertengahan abad ke 20. Namun, integrasi yang dilakukan oleh para perwakilan dari tiap daerah melalui Kongres Pemuda yang digelar pada 1926 – 1928 belum mampu menciptakan suatu workable relation antar masyarakat dan hanya didominasi oleh beberapa budaya. Dapat disaksikan melalui Kongres Pemuda yang sebagian besar dihadiri oleh perwakilan daerah Jawa (Jong Java), daerah Sumatra (Jong Sumatranen Bond), dan Sulawesi (Jong Celebes). Hingga pembentukan BPUPKI sebagai persiapan tata negara dan komponen didalamnya masih seringkali didominasi oleh daerah tertentu yang mengakibatkan pemasukan nilai norma budaya daerah tersebut menjadi kualifikasi hukum dan komponen kenegaraan dan harus ditaati oleh seluruh pihak. Pihak dari kedaerahan lainnya yang mewakili tiap-tiap daerah menyetujuinya sebagai hukum universal dalam ruang lingkup nusantara, meski dalam prosesnya terdapat berbagai macam perubahan yang ada didalamnya. Dalam suatu harian koran, pernah dikemukakan bahwa UU di Indonesia sangat sekali terinspirasi oleh tata hukum di Jawa serta Perdanya. Sebab-sebab dari berbagai hal tersebut tentunya sebagai suatu negara yang daratannya terpisah-pisah oleh lautan sehingga menurunkan potensi akses antar daerah serta mobilitas sosial di Indonesia. Tercermin juga melalui sistem transportasi impor dan biaya transportasi yang menyesuaikga global sehingga pendapatan per kapita masyarakat tidak dapat menutupi biaya yang diperlukan dalam mencapai suatu mobilitas sosial yang tiap-tiap daerah akan terjaring suatu workable relation. Perlu diketahui pula bahwa model peradaban Amerika Serikat pasca revolusi kemerdekaan yang 2 abad lebih dahulu dibandingkan kemerdekaaan Indonesia, melalui berbagai macam konflik dan peperangan hingga terciptanya suatu integrasi yang kuat dan membentuk negara yang satu di bawah suatu tradisi budaya yang satu. Meskipun prosesnya terbilang cukup mengerikan melalui berbagai macam konflik berdarah, namun keadaan tersebutlah yang menjadikannya negara yang kuat dan kokoh.
  • Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi pluralisme dan multikulturalisme. Prestise Indonesia sebagai suatu negara yang multikultur dan plural sebagaimana tercermin atas ribuan budaya didalamnya, akan tetapi prosesi tata negara dan kaidah kenegaraan yang patut dipatuhi oleh seluruh pihak menjadi sebuah unsur yang mengikat. Mungkin saja Indonesia bergelar sebagai negara multikultur, namun nyatanya pemaksaan hukum pusat dan beberapa cukup menyimpng dalam pandangan budaya kedaerahan tertentu menjadikan daerah tersebut tersegregasi dari pembangunan pusat dan hanya digunakan sebagai bahan penelitian antropologi maupun sosiologi serta kajian budaya lainnya. Selain dari kondisi tersebut, kepala suku dan budaya yang partikuler tersebut menerima atas keadaan tersebut. Meski hubungan yang terjadi simbiosis mutualisme, seiring perjalanan waktu dengan pertambahan penduduk serta menipisnya SDA, daerah-daerah yang menjadi kediaman suku tersebut semakin menipis dan bahkan tempat tinggal mereka beralih ke tempat konservasi alam (ex. Suku Anak Dalam).

pivotal point di atas merupakan sebuah contoh fakta yang dimanipulasi hingga memunculkan pemikiran masyarakat atas Indonesia yang telah satu padu setelah masa-masa kolonialisme dan imperialisme. Nyatanya, pasca proklamasi kemerdekan terdapat banyak sekali aksi-aksi disintegrasi terhadap kenegaraan Indonesia. Hukum universal menjadikannya satu budaya Indonesia, bukanlah suatu sistem masyarakat yang multikultur. Berjalannya era globalisasi pada masa kini semakin membentuk suatu budaya baru yang bersifat dinamis dan harus diterima seluruh pihak dalam rangka bertahan hidup. Oleh karena itulah, negara Indonesia sebagai suatu negara plural belum dapat menjamin keberadaan workable relation antar budaya dalam mencapai integrasi yang sempurna.

Kompleks Superioritas Manusia

Manusia, sebagai spesies raja di keluarga primata serta sebagai spesies yang memiliki keunikan intelijensi serta kesadaran. Bagaimana sejak spesies tersebut menginjakkan kakinya di tanah planet permadani ini, perubahan besar telah terjadi. Rekonstruksi dan penggunaan berbagai macam kenikmatan yang telah disuguhkan di planet ini belum memuaskannya. Tanpa sadar tindakan-tindakan yang dilakukannya menyebabkan korban jiwa pada spesies-spesies  lainnya hingga menimbulkan kepunahan. Ya, kepunahan besar-besaran yang diakibatkan manusia mendorong posisi spesies tersebut sebagai raja di planet permadani tersebut. Seluruh ekosistem serta struktur interrelasi spesies berada di bawah kendalinya. Bagaimanapun, setiap spesies pasti menggunakan berbagai macam sumber dayanya dalam rangka pertahanan hidup, survival of the fittest. Namun, sadar tidak sadar akan hal tersebut menimbulkan suatu hal yang secara psikologis dapat bersifat destruktif terhadap kehidupan spesies secara keseluruhan. Dalam otak tiap insan manusia telah dibekali suatu skema yang bahkan tidak menjadi proses sosialisasi sejak usia dini. Manusia cenderung menganggap dirinya lebih hebat dibandingkan spesies lain, menimbulkan kompleks superioritas antar spesies.

Kompleks superioritas dikemukakan oleh Alfred Adler sebagai suatu konsep pemikiran yang dipenuhi akan kesombongan dan keegoisan yang diakibatkan dari tidak ada rasa inferior terhadap yang lainnya. Sehingga, suatu individu akan merasa lebih baik maupun lebih dalam suatu hal terhadap individu lainnya. Dalam otak setiap spesies homo sapiens, tanpa melalui sebuah proses sosialisasi, komplek superioritas antar spesies telah tertanam. Hal tersebut dapat diproyeksikan dalam kasus yang sering terjadi sehari-hari dalam kehidupan manusia. Kata-kata cacian dan makian pasti akan diidentikkan dengan nama-nama binatang. Bagaimana seseorang yang akan mencoba mencaci orang lain dalam beberapa kejadian beberapa atau sebagian besar akan mengeluarkan kalimat-kalimat yang mengidentikkan lawannya dengan seekor binatang. Contohnya adalah penggunaan binatang ‘anjing’ sebagai bahan cercaan. Konotasi tersebut di nusantara bertandakan suatu konotasi yang tidak baik menurut konsensus umum masyarakat. Sehingga dalam melakukan pencaci-makian, kata tersebut seringkali muncul di permukaan yang menjadi sebuah kata yang efektif dalam penghukuman lawan maupun pemancing amarah terhadap manusia tersebut. Namun sejatinya, spesies bernama asli ‘canis lupus familiaris’ tersebut bukanlah suatu cemoohan dalam dunia binatang. Spesies tersebut merupakan pendengar yang baik yang mampu menerima gelombang suara infrasonik sehingga dapat mendeteksi gerakan-gerakan kecil yang datang yang sangat berguna sekali dalam pemburuan mangsa. Selain itu, spesies tersebut terkenal akan persahabatannya dengan spesies manusia. Mereka seringkali dijadikan alat pelacak kejahatan oleh para polisi. Pengetahuan akan hal tersebut tidak mengurangi kompleks superioritas manusia yang tidak menerima akan identifikasi tersebut dan mengklasifikasikannya sebagai sebuah cacian.

Hewan lainnya yang sering muncul dan bersifat universal adalah ‘babi’. Spesies bergenus sus dan berkeluarga suidae tersebut merupakan sebuah cacian yang dianggap paling hina secara universal. Hewan tersebut memiliki perilaku yang ‘dianggap’ oleh manusia sebagai perilaku yang kurang bersih akibat seringkali berendam di lumpur. Padahal, spesies tersebut dalam melakukan perendaman di lumpur merupakan akibat dari kekurangan kelenjar keringat dalam tubuhnya serta menjadi akar ‘budaya’ dalam kehidupan mereka. Hal tersebut menyamakan struktur kulit mereka dengan kudanil dan paus. Di sisi lain, babi juga merupakan hewan yang haram dimakan dalam agama Islam dan seringkali tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an. Hal tersebut membuatnya menjadi sebuah spesies hina di mata manusia.

Hal yang sungguh mengherankan adalah sebuah spesies yang berkeluarga dengan manusia dan para homo sapiens tersebut menganggap hewan tersebut adalah suatu bahan cercaan. Spesies tersebut tidak lain adalah anggota-anggota primata selain manusia yang meliputi gorila, babon, kera, simpanse, monyet, orangutan, dsb. Secara garis besar mereka memiliki kesamaan fisik satu dengan lainnya, namun manusia masih menganggap identifikasi diri mereka dengan spesies-spesies tersebut merupakan sebuah cercaan yang cukup mematahkan perasaan mereka. Spesies yang menjadi ujung tombak evolusi kehidupan manusia sekarang ini, menjadi spesies yang sejatinya lebih inferior dibandingkan manusia itu sendiri.  Sehingga akibat dari kompleks superioritas tersebut mereka akan selayaknya dipandang ‘sebelah mata’ oleh para anak-anak mereka sendiri. Menimbulkan suatu perkara ekosistem yang masif, sehingga proses kepunahan spesies itu sendiri nyatanya diabaikan.

Masih banyak sekali hewan-hewan maupun tumbuhan yang dianggap sebagai sebuah spesies inferior dibandingkan manusia. Intelijensi dan kesadaran membuat kita ‘sombong’ terhadap spesies lainnya. Dalam prosesnya, hal yang bersifat repetitif tersebut mengakibatkan ketidakpedulian terhadap spesies lainnya sehingga kepunahan masal akibat manusia jumlahnya jauh lebih cepat dan masif dibanding zaman sebelumnya. Spesies yang kalah akan dikontrol oleh spesies yang menang, sehingga dinamika akan terhambat dan mengalami kemerosotan dalam perkembangan hidup spesies. Wilayah konservasi merupakan suatu wadah tempat atur para spesies-spesies yang kalah tersebut dalam ruang gerak yang sempit. Komplek superioritas yang terjadi merupakan hal yang natural, atas konsepsi manusia memenangkan pertarungan menuju ekosistem yang otoriter.

Di lain sisi, apakah yang akan terjadi apabila manusia telah menciptakan suatu sistem dan diimplementasikan sebagai suatu spesies hidup yang memiliki kecerdasan dan kesadaran yang sama layaknya manusia? Yang bahkan kemampuan kecerdasannya melebihi tingkat wajar manusia? Jika mereka sebagai spesies sadar akan hal tersebut, tidak ada jaminan bahwa manusia akan selamat di masa depan dan memenangkan pertarungan dalam memperoleh ‘kursi teratas’. Kejadiannya akan serupa dengan apa yang telah terjadi sebelumnya pada spesies primata selain manusia. Manusia akan ditelantarkan dan dipandang sebuah mata, hingga pengaturan ekosistem berada di tangan penguasa dalam menggubah struktur di planet permadani ini.

Economic Inequality and Capital City

In this post-industrial civilized society or some sociologists call it the information society, we ought to believe there was an uprising economic inequalities that flourished the mainstream media. There was a famous debate of the century in the essence of solving the issue. Some labeled it as the product of free market capitalism with an immense quantity of corporate and individual freedom that brainwashed with the nature of the market. They would likely to believe a ‘leviathan’ or a powerful institution to generate laws and order to maintain the sustainability of the economic equality. And the opposite thought that economic inequality was created with the nature of hard working individuals that thrived in the top of the food chain of the ‘ecosystem’ as darwinian approach on survival instinct between animals. And humans, unlike another regular animals with the essence of consciousness and high intellect compete to one another in order to fullfill their self interest in the cost of the environment. And as the result of that process of the ecosystem, there are winners and losers. That theory embodied with the natural monopoly of a firm in a competitive market. But, on this article I would likely to unveil a new thoughts of the existence of economic inequality that summed up wealth and income inequality. Economic inequality was driven by the nature of the state, that was thriving a central planning approach on a given particular set of a geographical region.

In some cases, every nations on earth was given a set of territory with an additive identity to support the indenpendency of a nation (e.g. Currency, Capital city, Population, Political system, etc.). According to the political science, the identity of a nation should be comprised as the existence of that nation to achieve a fullfillment of autonomy in a set territory. With that old point of view the capital city as the thriving part of a nation should’ve gotten developed compared to the other region. The national budget to splurge in capital city was shown to be higher than any part of other cities that included in a particular state. As a result, a better infrastucture was built upon in the capital city and the wealth of the state transferred mostly to the society within that region. The capital city would’ve encountered an enormous rate of urbanization, when people really thrive for a living. A demagogue of economic inequality happened, within small periods of time. Regional GDP rate was severely higher in capital city than any other cities. And somewhat this idea was overshadowed by the inequality as a new virus to the state. It’s somewhat seen as likely as a cancer.

A better analogy would be a multinational corporation having a large numbers of smaller sectors. In the internal part of corporate management that agreed upon by the CEO and Board of Directors, it’s a natural sense to splurge their balance sheet to improve their central building alongside with them, it’s mandatory. While other smaller sectors of the same firm, receive a smaller part of the central budget to thrive. In economics, that concept was somewhat refered as cash flow constraints. With the same attitude that other profit-seeking organization would sustain their business. The CEO is basicly the executive part in the political hierarcy, following with the board as the legislative. Every nations on earth was excavating this idea and accepted throughout generations. While in that process, because of the difference of assets and conventionally using cash as a building blocks of statistical measurement, the economic inequality was ‘right there’. Even before the birth of the Max Otto Lorenz, who also gave birth to the lorenz curve and the gini coefficient as a tool of measurement.

In this 21st century, the idea of inequality driven by that process of state planned law on the essence of capital city was overshadowed and discredited because of the lack of the political boost to thrive a better bureaucratic occupation. The effect of mainstream media as the coverage and dynamics of the particular set of expression of hatred towards inequality and some who oppose with the mainstream causes of ‘state vs individual’ was a big success. Large corporations are covering themselves in darkness, with bribery to the media of the devil government. Meanwhile on the other hand, politicians lobbied media to overcome with propaganda of socialism as a better solution to the issue of economic inequality. And those debates are carving the benefits and overloading the cost to the society, with the entracing low level of productivity in the partial stasis growth.

Artificial Consciousness, Social Consciousness

Dekade kemunculan manusia modern pada zaman holosen tepatnya 200,000 tahun yang lalu kerap menimbulkan perubahan pada planet yang dipijakinya. Spesies berjuluk Homo Sapiens tersebut memiliki porsi berat otak yang lebih besar dibandingkan spesies leluhurnya berserta keluarganya, baik primata dan hominid. Spesies bertulang belakang tersebut juga dipandang ‘unik’ secara universal sebagai kategori hewan dalam taksonomi biologi, serta mahluk hidup universal termasuk kategori tumbuh-tumbuhan. Keunikan dari spesies homo sapiens diantaranya memiliki apa yang disebut intelijensi dan kesadaran (consciousness). Melalui keunikan tersebut, spesies itu dapat merubah apa yang dipijakinya hingga membangun peradaban dalam planet Bumi. Bagaimana dapat kita ketahui melalui sejarah yang tertera dalam berbagai macam buku sejarah SMP hingga perguruan tertinggi, konsep manusia sebagai objek sejarah dan penggerak sejarah. Hingga pada saat ini, manusia dapat menciptakan objek sebagai perkembangan iptek serta replika intelijensi yang dimiliki spesies tersebut dirancang melalui teknologi buatan spesies itu sendiri. Emergensi dari hal tersebut menimbulkan permasalahan serius di mana keberadaan umat manusia dikhawatirkan akan punah oleh ‘tangan’ mereka sendiri. Namun, ada satu aspek dari manusia yang para replika intelijensi buatan mereka. Aspek tersebut dapat disebut sebagai kesadaran (consciousness). Bagaimana hal tersebut tidak dapat direplika?

Hingga dasawarsa terakhir pada abad ke 20, para ilmuwan hingga cendekiawan kerap membicarakan mengenai konsep replika kesadaran yang ternilai mustahil. Setelah ‘naik daun’ nya kesuksesan deep blue ciptaan IBM atas kemenangan terhadap seorang juara catur dunia menimbulkan argumentasi akan ketakutan intelijensi buatan dalam ‘membunuh’ manusia. Hingga para tokoh terkemuka Bill Gates, Elon Musk dan Stephen Hawking menilai intelijensi buatan merupakan ‘senjata makan tuan’. Namun hal tersebut kerap mengundang argumentasi kontra para cendekiawan, psikolog dan neuroscientist. Filsuf John Searle mempublikasi argumentasinya yaitu ‘Chinese Room Argument’ dimana ia menyatakan intelijensi buatan tidak cukup dalam mengartikan suatu simbol yang diajarkannya (semantik). Objek yang digunakan dalam penelitian saat itu adalah Mesin Turing yang cukup terkemuka membawa emergensi awal timbulnya intelijensi buatan. Pada dekade yang sama filsuf Giorgio Buttazzo berargumentasi “Walaupun teknologi mutakhir dapat berdiri sendiri, mereka tidak memiliki kreativitas, perasaan, maupun kehendak bebas. Sebuah komputer, layaknya mesin cuci hanyalah sebatas budak yang dioperasikan melalui komponennya”. Para komputer tersebut didesain hanya untuk efisiensi semata, mereka tidak sadar akan hal itu, mereka tidak tahu bahwa mereka diperbudak, mereka tidak memiliki kehati-hatian terhadap lingkungan sekitar, mereka tidak memiliki moralitas yang menjadi fundamental dalam peradaban kemanusiaan.

Pada tahun 2011, David Chalmers mempublikasikan karangannya di Journal of Cognitive Science yang berjudul A Computational Foundation for the Study of Cognition. Ia menuliskan teori yang bersifat ‘unorthodoks’ terhadap kalangan psikolog dan neurosaintis. Chalmers berargumen bahwa para komputer dapat memiliki kesadaran. Komputasi yang dilakukan para komputer dapat membaca sistem lain yang memiliki struktur organisasi sebab-akibat yang abstrak. Melalui pembelajaran terhadap pengalaman dan organisasi sebab-akibat abstrak, Chalmers menyatakan argumentasi kesadaran buatannya melalui argumen Qualia. Bagaimana kesadaran buatan melalui proses komputasi dapat dibuat melalui ilmu kuantum hingga biokimia. Proses-proses abstrak tersebut akan diserap sebagai informasi dalam penyimpanan di otak para komputer dan menciptakan kesadaran hingga mengikuti kebiasaan abstrak tersebut dan menciptakan ‘judgement’ sendiri terhadap konsep abstrak tersebut. Namun, hingga sekarang konsep tersebut masih belum dapat direalisasikan dalam pembuatan intelijensi buatan yang kerap terfokus dalam efisiensi produksi.

Efek Dari Kesadaran

Mungkin konsep dari kesadaran sendiri terbilang kompleks, dimana hal tersebut tercipta melalui apa yang disebut Neural Correlates of Consciousness (NCC). Dalam ilmu psikologi dan neurosains, kesadaran dan kehati-hatian masuk pada ilmu kognitif manusia. Kesadaran sendiri bersumber dari kehati-hatian terhadap fakta di sekelilingnya. Maksud dari kehati-hatian tersebut adalah fakta di sekitar dicerna melalui NCC dan kemudian terngiang persepsi terhadap fakta di sekitar. Jika ditinjau kembali, hal tersebutlah yang mendorong banyaknya pergeseran kepentingan, kriminalitas, ketidaksesuaian hingga perang dan konflik membanjiri prosesi manusia dalam membangun peradaban. Eksistensi dari kesadaran menciptakan apa yang kita kenal dengan Ideologi. Eksistensi tersebut membuahi pikiran pada Socrates, Konfusius, Plato, David Hume dalam mengembangkan persepsi mereka dalam fakta yang terdapat pada lingkungan sekitar. Dari sinilah ilmu pengetahuan muncul dan dilanjutkan oleh emergensi teknologi yang sangat dinamis.

Dari sini mungkin para pembaca bingung akan penciptaan kesadaran tersebut. Selain dari kompleksitasnya, kesadaran sangatlah hal yang tabu. Bukannya sebagai suatu senjata justru malah menjadi pemusnah terhadap satu sama lain. Tetapi, permasalahan mengenai bagaimana kesadaran pada insan manusia dapat mempengaruhi proses peradaban manusia di planet bumi tidak lain merupakan pengembalian mental manusia masing-masing yang menggenggaminya. Apakah mereka sebagai spesies di rantai teratas menggunakan kesadaran dan intelijensi sebagai alat dalam menyokong fondasi kemaslahatan umat manusia dalam interaksinya, atau menggunakannya sebagai penghancur fondasi dan peretak hubungan antar tiap manusia. Rasisme, contohnya merupakan suatu hal yang tercipta akan kesadaran. Melalui kesadaran atas lingkungan sektiar, otak akan memproses informasi yang masuk melewati tindakan-tindakan yang kemudian dicerna dan diklasifikasikan menurut fisik yang ada. Orang kulit hitam akan dicerna sebagai bangsa yang keras sedangkan orang Asia kan dinobatkan sebagai yang terpintar sesuai dengan keberadaan kelingkungan. Namun, melalui pengaturan informasi yang didapat kita dapat melakukan filter terhadap informasi yang masuk. Tidak berbeda halnya dengan Perbedaan perilaku dalam jenis kelamin. Bagaimana informasi yang masuk melalui tindakan sekitarnya akan menimbulkan stereotip. Kendala atas kedua hal tersebut merupakan akibat dari sejarah peradaban umat dan bagaimana sistem kepercayaan menyelimuti pikiran spesies manusia. Keinginan dan hawa nafsu yang mengendalikan proses pencernaan informasi menjadi hambatan kedua dikarenakan dalam rangka pencapaian tujuan sempit oleh beberapa kalangan. Yah, seperti yang kita tahu bahwa di suatu sosieta maupun yang lebih erat yaitu kelompok sosial, didalamnya masih dapat ditemukan klik dan kelompok yang lebih sempit bukan? Dan kita pun mengetahui bagaimana proses sosialisasi melalui kesadaran sekitar dilimuti oleh pribadi awal yang terbentuk oleh keluarga dan institusi primer sosial lainnya.

http://consc.net/papers/qualia.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Artificial_consciousness

http://www.rawstory.com/2016/03/a-neuroscientist-explains-why-artificially-intelligent-robots-will-never-have-consciousness-like-humans/

http://www.kurzweilai.net/the-problem-of-ai-consciousness