Kekuatan Sebuah Konsensus

Beberapa hari yang lalu penulis kerap membicarakan mengenai konsepsi keberadaan akal, dimana penulis secara frekuentatif menyinggung keberadaan norma, konsensus, dan hukum. Seperti yang telah diperbincangkan sebelumnya, akal manusia dibatasi oleh keberadaan-keberadaan apa yang dinamakan suatu konsensus. Dalam artian, konsensus itu sendiri memiliki pengaruh serta peran yang cukup masif dalam membangun struktur kolektif masyarakat. Sehingga pada kesempatan kali ini penulis akan lebih mendalami makna konsensus serta efek dari keberadaan suatu konsep yang disebutkan.

Konsensus merupakan suatu wadah yang berisikan pemikiran-pemikiran sekumpulan manusia yang heterogen kemudian melalui beberapa gubahan mengalami penyatuan dan lebih homogen (Durkheim, 1895). Konsensus merupakan suatu abstrak yang membentuk pola kepribadian yang kerap akan meningkatkan kohesi interaksi antar manusia dalam lingkup kolektivis. Keberadaan konsensus dalam lingkup kolektivis manusia berperan dalam menanamkan suatu abstrak lanjutan berupa nilai yang berfungsi dalam menanamkan harapan umum dalam satu kesatuan kumpulan manusia. Kemunculan konsensus disebabkan oleh heterogenitas falsafah berpikir tiap manusia serta heterogenitas kultur atau budaya yang membentuk kepribadian manusia yang berbeda-beda sehingga dalam proses penyatuannya diperlukan suatu kaidah yang kerap disetujui oleh seluruh pihak manusia terkait. Tampak dari definisi konsensus hingga peran dan pengaruhnya dalam manusia terlihat membawa angin segar serta kenyamanan dalam kohesivitas interaksi antar manusia. Namun, keberadaan konsensus yang telah membentuk nilai kolektif hanya akan menjadi batasan dalam tiap manusia serta pembentuk skema-skema pandangan terhadap kejadian yang berada di kasat mata yang acap kali menimbulkan apa yang disebut stigma dan paradigma.

Stigma merupakan suatu keadaan dimana kumpulan manusia kolektif memandang suatu nilai baru dan memberi label negatif akibat dari ketidaksesuaian terhadap nilai yang dimaksud atau nilai tersebut hendak memberikan kehancuran bagi struktur kolektif yang telah dikonstruksi. Paradigma, merupakan suatu perbedaan pandangan tiap manusia yang disebabkan oleh perbedaan konsensus pembentuk kepribadian. Kedua hal tersebut merupakan keadaan yang disebabkan oleh keberadaan konsensus. Akibat dari adanya hal tersebut, tiap manusia berupaya dalam menciptakan suatu konsensus yang dapat merangkul seluruh elemen konsensus yang telah ada, yang disebut-sebut sebagai konsensus umum.

Keberadaan konsensus umum, terdengar sebagai suatu terobosan akhir yang menjadi pemberhenti di ujung jalan, menjadi mercusuar bagi para manusia untuk bertindak. Namun, lagi-lagi keberadaan konsensus umun telah merekonstruksi seluruh tatanan pandangan yang telah terkonstruksi dalam manusia dan bersifat turun-temurun secara generatif. Semua hal yang terkandung mengenai pandangan terhadap moralitas baik dan jahat, maupun benar dan salah, terekonstruksi di dalam suatu konsensus umum. Tidak hanya itu, pandangan-pandangan yang bermakna subjektif akan kerap dipercaya sebagai suatu objektivitas, dikarenakan tiap-tiap manusia mempercayainya sebagai suatu hal yang bersifat demikian.

Untuk mempermudah, penulis akan memaparkan berbagai contoh terkait mengenai bagaimana konsensus umum merekonstruksi nilai serta skema pandangan yang tercatat di kepala manusia. Contoh yang pertama adalah indah dan jelek. Tiap-tiap manusia telah mengilhami kepercayaan terhadap kedua hal tersebut sebagai hal yang kontras dan memiliki karakteristik tertentu yang membangun kedua nilai tersebut. Postur tubuh yang gemuk akan diidentikkan dengan kejelekan, paras wajah yang sedemikian rupa akan dianggap sebagai suatu atribut keindahan, dan sebagainya. Proses aglomerasi karakteristik yang dinilaikan melalui konsensus umum, akan mengakibatkan hal sedemikian rupa sehingga tiap manusia memiliki skema pemikiran dan pandangan terhadap suatu hal yang dilihatnya dan dapat diidentikkan diantara kedua hal tersebut. Akibat dari keberadaan hal tersebut, para manusia acap kali memperbaiki penampilannya sedemikian rupa agar diidentikkan sebagai suatu keindahan, dan keindahan yang dimaksud merupakan keindahan yang terstruktur dalam konsensus umum. Dekade terakhir, terdapat beberapa suara yang menjunjung tinggi perbedaan dalam penampilan serta konsensus indah dan jelek merupakan penilaian terhadap diri individu manusia masing-masing. Sayangnya, konsensus umum lagi-lagi tidak memperhatikan pendapatnya dan kerap tiap manusia masih memiliki skema terhadap suatu hal yang dianggap indah atau jelek. Kelompok tersebut pada akhirnya tersegregasi dari mayoritas.

Contoh kedua adalah baik dan jahat. Kedua hal tersebut yang menjadi suatu moralitas umum di masyarakat tengah terkotak-kotakkan oleh keberadaan konsensus umum di masyarakat. Setiap kegiatan yang bernilai baik merupakan konstruksi nilai masyarakat serta kegiatan yang bernilai jahat merupakan keadaan yang tidak diinginkan maupun tidak sesuai dalam kaidah konsensus masyarakat. Sikap empati dan simpati terhadap orang-orang kecil akan diklasifikasikan sebagai kebaikan. Kontras dengan sikap pembunuhan serta berzina yang diklasifikasikan sebagai suatu kejahatan. Kedua hal tersebut merupakan kerangka kontekstual yang sangat mempengaruhi kepribadian manusia kedepannya. Moralitas tersebut memberikan pengaruh yang cukup masif dalam kehidupan manusia kolektivis.

Rapih dan berantakan merupakan nilai yang dimotori oleh konsensus. Kuat dan lemah merupakan skema pandangan yang juga dimotori oleh konsensus. Bersih dan kotor juga merupakan hasil dari konsensus. Hampir setiap kata yang berjenis sifat atau adjektiva memiliki definisi-definisi yang dimotori oleh keberadaan suatu konsensus. Sehingga peristiwa-peristiwa tersebut memberikan suatu pandangan yang telah diingat oleh saraf-saraf dalam otak sehingga manusia sudah tidak terheran kembali apabila hendak menilai suatu hal yang berada disekitarnya. Dan konsensus-lah yang menciptakan segala macam hal tersebut, hingga pada akhirnya muncul keadaan meng-objektifkan setiap hal yang subjektif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s