Manusia, sebagai spesies raja di keluarga primata serta sebagai spesies yang memiliki keunikan intelijensi serta kesadaran. Bagaimana sejak spesies tersebut menginjakkan kakinya di tanah planet permadani ini, perubahan besar telah terjadi. Rekonstruksi dan penggunaan berbagai macam kenikmatan yang telah disuguhkan di planet ini belum memuaskannya. Tanpa sadar tindakan-tindakan yang dilakukannya menyebabkan korban jiwa pada spesies-spesies  lainnya hingga menimbulkan kepunahan. Ya, kepunahan besar-besaran yang diakibatkan manusia mendorong posisi spesies tersebut sebagai raja di planet permadani tersebut. Seluruh ekosistem serta struktur interrelasi spesies berada di bawah kendalinya. Bagaimanapun, setiap spesies pasti menggunakan berbagai macam sumber dayanya dalam rangka pertahanan hidup, survival of the fittest. Namun, sadar tidak sadar akan hal tersebut menimbulkan suatu hal yang secara psikologis dapat bersifat destruktif terhadap kehidupan spesies secara keseluruhan. Dalam otak tiap insan manusia telah dibekali suatu skema yang bahkan tidak menjadi proses sosialisasi sejak usia dini. Manusia cenderung menganggap dirinya lebih hebat dibandingkan spesies lain, menimbulkan kompleks superioritas antar spesies.

Kompleks superioritas dikemukakan oleh Alfred Adler sebagai suatu konsep pemikiran yang dipenuhi akan kesombongan dan keegoisan yang diakibatkan dari tidak ada rasa inferior terhadap yang lainnya. Sehingga, suatu individu akan merasa lebih baik maupun lebih dalam suatu hal terhadap individu lainnya. Dalam otak setiap spesies homo sapiens, tanpa melalui sebuah proses sosialisasi, komplek superioritas antar spesies telah tertanam. Hal tersebut dapat diproyeksikan dalam kasus yang sering terjadi sehari-hari dalam kehidupan manusia. Kata-kata cacian dan makian pasti akan diidentikkan dengan nama-nama binatang. Bagaimana seseorang yang akan mencoba mencaci orang lain dalam beberapa kejadian beberapa atau sebagian besar akan mengeluarkan kalimat-kalimat yang mengidentikkan lawannya dengan seekor binatang. Contohnya adalah penggunaan binatang ‘anjing’ sebagai bahan cercaan. Konotasi tersebut di nusantara bertandakan suatu konotasi yang tidak baik menurut konsensus umum masyarakat. Sehingga dalam melakukan pencaci-makian, kata tersebut seringkali muncul di permukaan yang menjadi sebuah kata yang efektif dalam penghukuman lawan maupun pemancing amarah terhadap manusia tersebut. Namun sejatinya, spesies bernama asli ‘canis lupus familiaris’ tersebut bukanlah suatu cemoohan dalam dunia binatang. Spesies tersebut merupakan pendengar yang baik yang mampu menerima gelombang suara infrasonik sehingga dapat mendeteksi gerakan-gerakan kecil yang datang yang sangat berguna sekali dalam pemburuan mangsa. Selain itu, spesies tersebut terkenal akan persahabatannya dengan spesies manusia. Mereka seringkali dijadikan alat pelacak kejahatan oleh para polisi. Pengetahuan akan hal tersebut tidak mengurangi kompleks superioritas manusia yang tidak menerima akan identifikasi tersebut dan mengklasifikasikannya sebagai sebuah cacian.

Hewan lainnya yang sering muncul dan bersifat universal adalah ‘babi’. Spesies bergenus sus dan berkeluarga suidae tersebut merupakan sebuah cacian yang dianggap paling hina secara universal. Hewan tersebut memiliki perilaku yang ‘dianggap’ oleh manusia sebagai perilaku yang kurang bersih akibat seringkali berendam di lumpur. Padahal, spesies tersebut dalam melakukan perendaman di lumpur merupakan akibat dari kekurangan kelenjar keringat dalam tubuhnya serta menjadi akar ‘budaya’ dalam kehidupan mereka. Hal tersebut menyamakan struktur kulit mereka dengan kudanil dan paus. Di sisi lain, babi juga merupakan hewan yang haram dimakan dalam agama Islam dan seringkali tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an. Hal tersebut membuatnya menjadi sebuah spesies hina di mata manusia.

Hal yang sungguh mengherankan adalah sebuah spesies yang berkeluarga dengan manusia dan para homo sapiens tersebut menganggap hewan tersebut adalah suatu bahan cercaan. Spesies tersebut tidak lain adalah anggota-anggota primata selain manusia yang meliputi gorila, babon, kera, simpanse, monyet, orangutan, dsb. Secara garis besar mereka memiliki kesamaan fisik satu dengan lainnya, namun manusia masih menganggap identifikasi diri mereka dengan spesies-spesies tersebut merupakan sebuah cercaan yang cukup mematahkan perasaan mereka. Spesies yang menjadi ujung tombak evolusi kehidupan manusia sekarang ini, menjadi spesies yang sejatinya lebih inferior dibandingkan manusia itu sendiri.  Sehingga akibat dari kompleks superioritas tersebut mereka akan selayaknya dipandang ‘sebelah mata’ oleh para anak-anak mereka sendiri. Menimbulkan suatu perkara ekosistem yang masif, sehingga proses kepunahan spesies itu sendiri nyatanya diabaikan.

Masih banyak sekali hewan-hewan maupun tumbuhan yang dianggap sebagai sebuah spesies inferior dibandingkan manusia. Intelijensi dan kesadaran membuat kita ‘sombong’ terhadap spesies lainnya. Dalam prosesnya, hal yang bersifat repetitif tersebut mengakibatkan ketidakpedulian terhadap spesies lainnya sehingga kepunahan masal akibat manusia jumlahnya jauh lebih cepat dan masif dibanding zaman sebelumnya. Spesies yang kalah akan dikontrol oleh spesies yang menang, sehingga dinamika akan terhambat dan mengalami kemerosotan dalam perkembangan hidup spesies. Wilayah konservasi merupakan suatu wadah tempat atur para spesies-spesies yang kalah tersebut dalam ruang gerak yang sempit. Komplek superioritas yang terjadi merupakan hal yang natural, atas konsepsi manusia memenangkan pertarungan menuju ekosistem yang otoriter.

Di lain sisi, apakah yang akan terjadi apabila manusia telah menciptakan suatu sistem dan diimplementasikan sebagai suatu spesies hidup yang memiliki kecerdasan dan kesadaran yang sama layaknya manusia? Yang bahkan kemampuan kecerdasannya melebihi tingkat wajar manusia? Jika mereka sebagai spesies sadar akan hal tersebut, tidak ada jaminan bahwa manusia akan selamat di masa depan dan memenangkan pertarungan dalam memperoleh ‘kursi teratas’. Kejadiannya akan serupa dengan apa yang telah terjadi sebelumnya pada spesies primata selain manusia. Manusia akan ditelantarkan dan dipandang sebuah mata, hingga pengaturan ekosistem berada di tangan penguasa dalam menggubah struktur di planet permadani ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s