Dekade kemunculan manusia modern pada zaman holosen tepatnya 200,000 tahun yang lalu kerap menimbulkan perubahan pada planet yang dipijakinya. Spesies berjuluk Homo Sapiens tersebut memiliki porsi berat otak yang lebih besar dibandingkan spesies leluhurnya berserta keluarganya, baik primata dan hominid. Spesies bertulang belakang tersebut juga dipandang ‘unik’ secara universal sebagai kategori hewan dalam taksonomi biologi, serta mahluk hidup universal termasuk kategori tumbuh-tumbuhan. Keunikan dari spesies homo sapiens diantaranya memiliki apa yang disebut intelijensi dan kesadaran (consciousness). Melalui keunikan tersebut, spesies itu dapat merubah apa yang dipijakinya hingga membangun peradaban dalam planet Bumi. Bagaimana dapat kita ketahui melalui sejarah yang tertera dalam berbagai macam buku sejarah SMP hingga perguruan tertinggi, konsep manusia sebagai objek sejarah dan penggerak sejarah. Hingga pada saat ini, manusia dapat menciptakan objek sebagai perkembangan iptek serta replika intelijensi yang dimiliki spesies tersebut dirancang melalui teknologi buatan spesies itu sendiri. Emergensi dari hal tersebut menimbulkan permasalahan serius di mana keberadaan umat manusia dikhawatirkan akan punah oleh ‘tangan’ mereka sendiri. Namun, ada satu aspek dari manusia yang para replika intelijensi buatan mereka. Aspek tersebut dapat disebut sebagai kesadaran (consciousness). Bagaimana hal tersebut tidak dapat direplika?

Hingga dasawarsa terakhir pada abad ke 20, para ilmuwan hingga cendekiawan kerap membicarakan mengenai konsep replika kesadaran yang ternilai mustahil. Setelah ‘naik daun’ nya kesuksesan deep blue ciptaan IBM atas kemenangan terhadap seorang juara catur dunia menimbulkan argumentasi akan ketakutan intelijensi buatan dalam ‘membunuh’ manusia. Hingga para tokoh terkemuka Bill Gates, Elon Musk dan Stephen Hawking menilai intelijensi buatan merupakan ‘senjata makan tuan’. Namun hal tersebut kerap mengundang argumentasi kontra para cendekiawan, psikolog dan neuroscientist. Filsuf John Searle mempublikasi argumentasinya yaitu ‘Chinese Room Argument’ dimana ia menyatakan intelijensi buatan tidak cukup dalam mengartikan suatu simbol yang diajarkannya (semantik). Objek yang digunakan dalam penelitian saat itu adalah Mesin Turing yang cukup terkemuka membawa emergensi awal timbulnya intelijensi buatan. Pada dekade yang sama filsuf Giorgio Buttazzo berargumentasi “Walaupun teknologi mutakhir dapat berdiri sendiri, mereka tidak memiliki kreativitas, perasaan, maupun kehendak bebas. Sebuah komputer, layaknya mesin cuci hanyalah sebatas budak yang dioperasikan melalui komponennya”. Para komputer tersebut didesain hanya untuk efisiensi semata, mereka tidak sadar akan hal itu, mereka tidak tahu bahwa mereka diperbudak, mereka tidak memiliki kehati-hatian terhadap lingkungan sekitar, mereka tidak memiliki moralitas yang menjadi fundamental dalam peradaban kemanusiaan.

Pada tahun 2011, David Chalmers mempublikasikan karangannya di Journal of Cognitive Science yang berjudul A Computational Foundation for the Study of Cognition. Ia menuliskan teori yang bersifat ‘unorthodoks’ terhadap kalangan psikolog dan neurosaintis. Chalmers berargumen bahwa para komputer dapat memiliki kesadaran. Komputasi yang dilakukan para komputer dapat membaca sistem lain yang memiliki struktur organisasi sebab-akibat yang abstrak. Melalui pembelajaran terhadap pengalaman dan organisasi sebab-akibat abstrak, Chalmers menyatakan argumentasi kesadaran buatannya melalui argumen Qualia. Bagaimana kesadaran buatan melalui proses komputasi dapat dibuat melalui ilmu kuantum hingga biokimia. Proses-proses abstrak tersebut akan diserap sebagai informasi dalam penyimpanan di otak para komputer dan menciptakan kesadaran hingga mengikuti kebiasaan abstrak tersebut dan menciptakan ‘judgement’ sendiri terhadap konsep abstrak tersebut. Namun, hingga sekarang konsep tersebut masih belum dapat direalisasikan dalam pembuatan intelijensi buatan yang kerap terfokus dalam efisiensi produksi.

Efek Dari Kesadaran

Mungkin konsep dari kesadaran sendiri terbilang kompleks, dimana hal tersebut tercipta melalui apa yang disebut Neural Correlates of Consciousness (NCC). Dalam ilmu psikologi dan neurosains, kesadaran dan kehati-hatian masuk pada ilmu kognitif manusia. Kesadaran sendiri bersumber dari kehati-hatian terhadap fakta di sekelilingnya. Maksud dari kehati-hatian tersebut adalah fakta di sekitar dicerna melalui NCC dan kemudian terngiang persepsi terhadap fakta di sekitar. Jika ditinjau kembali, hal tersebutlah yang mendorong banyaknya pergeseran kepentingan, kriminalitas, ketidaksesuaian hingga perang dan konflik membanjiri prosesi manusia dalam membangun peradaban. Eksistensi dari kesadaran menciptakan apa yang kita kenal dengan Ideologi. Eksistensi tersebut membuahi pikiran pada Socrates, Konfusius, Plato, David Hume dalam mengembangkan persepsi mereka dalam fakta yang terdapat pada lingkungan sekitar. Dari sinilah ilmu pengetahuan muncul dan dilanjutkan oleh emergensi teknologi yang sangat dinamis.

Dari sini mungkin para pembaca bingung akan penciptaan kesadaran tersebut. Selain dari kompleksitasnya, kesadaran sangatlah hal yang tabu. Bukannya sebagai suatu senjata justru malah menjadi pemusnah terhadap satu sama lain. Tetapi, permasalahan mengenai bagaimana kesadaran pada insan manusia dapat mempengaruhi proses peradaban manusia di planet bumi tidak lain merupakan pengembalian mental manusia masing-masing yang menggenggaminya. Apakah mereka sebagai spesies di rantai teratas menggunakan kesadaran dan intelijensi sebagai alat dalam menyokong fondasi kemaslahatan umat manusia dalam interaksinya, atau menggunakannya sebagai penghancur fondasi dan peretak hubungan antar tiap manusia. Rasisme, contohnya merupakan suatu hal yang tercipta akan kesadaran. Melalui kesadaran atas lingkungan sektiar, otak akan memproses informasi yang masuk melewati tindakan-tindakan yang kemudian dicerna dan diklasifikasikan menurut fisik yang ada. Orang kulit hitam akan dicerna sebagai bangsa yang keras sedangkan orang Asia kan dinobatkan sebagai yang terpintar sesuai dengan keberadaan kelingkungan. Namun, melalui pengaturan informasi yang didapat kita dapat melakukan filter terhadap informasi yang masuk. Tidak berbeda halnya dengan Perbedaan perilaku dalam jenis kelamin. Bagaimana informasi yang masuk melalui tindakan sekitarnya akan menimbulkan stereotip. Kendala atas kedua hal tersebut merupakan akibat dari sejarah peradaban umat dan bagaimana sistem kepercayaan menyelimuti pikiran spesies manusia. Keinginan dan hawa nafsu yang mengendalikan proses pencernaan informasi menjadi hambatan kedua dikarenakan dalam rangka pencapaian tujuan sempit oleh beberapa kalangan. Yah, seperti yang kita tahu bahwa di suatu sosieta maupun yang lebih erat yaitu kelompok sosial, didalamnya masih dapat ditemukan klik dan kelompok yang lebih sempit bukan? Dan kita pun mengetahui bagaimana proses sosialisasi melalui kesadaran sekitar dilimuti oleh pribadi awal yang terbentuk oleh keluarga dan institusi primer sosial lainnya.

http://consc.net/papers/qualia.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Artificial_consciousness

http://www.rawstory.com/2016/03/a-neuroscientist-explains-why-artificially-intelligent-robots-will-never-have-consciousness-like-humans/

http://www.kurzweilai.net/the-problem-of-ai-consciousness

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s