“Lu udah ga kaya dulu lagi, lu udah berubah sekarang…”

Kalimat di atas merupakan salah satu kalimat yang notabene membanjiri telinga sebagian besar manusia akibat dinamika. Dinamika yang dimaksud bukanlah perkara energi kinetik maupun perubahan arah dari fluida atau aliran listrik. Tidak berbeda dengan konteks ‘perubahan’, dinamika yang dimaksud meliputi perubahan bentuk, psikologi, pikiran manusia yang telah membentuk suatu peradaban yang pada akhirnya dapat mengkolonisasi suatu wilayah. Mengikuti alur spasial dan temporal, manusia telah memberikan elemen dalam hampir seluruh bagian dalam kehidupan sebagaimana statusnya sebagai ‘penggerak’ dan ‘perubah’.

Kalimat dinamika sangat kontras berbeda dengan konsistensi.

Konsistensi dalam kajian bahasa dapat disimpulkan sebagai ketetapan. Sifat yang bersifat tetap tidak memiliki perubahan dalam arahnya sebagaimana dijelaskan dalam mekanika (ukuran skalar). Konsistensi menurut aspek psikologis sangat bersifat konservatif, yaitu dalam perubahan spasial dan temporal tidak akan berubah dan menjadi sangat rekat dengan objeknya yaitu manusia. Konservatif yang bermakna melindungi atau melestarikan, sangatlah kontras dengan manusia yang dinamis. Akal dan Kesadaran yang menjadi sumber dinamisasi, tidaklah bersifat konservatif maupun konsisten. Kesadaran akan ketetapan akan mendorong akal menstimulasi apa yang dimaksud dengan Discovery, Invention, Innovation. Manusia melalui alat bantu tubuh akan mendorong penemuan melalui alam di sekitarnya. Melalui penemuan, manusia membentuk suatu komponen baru hingga para manusia lainnya memberikan penghargaan hingga menggunakannya sebagai alat bantu kehidupan. Tidak cukup menciptakan objek baru, manusia mengembangkan fungsi objek tersebut. Hal-hal tersebut mengalami siklus hingga pada akhirnya membentuk sebuah peradaban dalam kewilayahan.

Abstraksi kali ini mengangkat tema Dinamika dan Konsistensi, perihal inspirasi yang disokong melalui penelitian un-scientific penulis perihal kejadian yang seringkali menimpa baik penulis maupun individu lainnya. Bagaimana dinamika dan konsistensi dapat mempengaruhi kehidupan seorang seniman ataupun musisi. Bagaimana dinamika dan konsistensi mempengaruhi seorang produser film, atau selebriti. Dinamika dan Konsistensi mempengaruhi kehidupan manusia dalam ruang lingkup makro maupun mikro, sebagaimana manusia mempengaruhi peradaban di suatu wilayah.

Seringkali kita mendengar suatu kalimat yang menyatakan kecintaan seseorang terhadap suatu hal yang diliput melalui objek temporal. Kuno dan Kontemporer, Klasik dan Modern, Lama dan Baru merupakan rumpun kata yang sering tergabung terhadap suatu objek misalkan musik klasik, film modern, pakaian kuno, dll. Daun telinga kita menangkap gabungan-gabungan kata di atas melalui observasi terhadap objek yang pada saat itu memunculkan nilai keberhargaan terhadap objek. Misalkan :

“Wah, musik jadul keren banget dah. Dibanding sekarang yang kebanyakan sampah”

“Gw kan kalo beli baju ikutin trend bro, trend sekarang itu ajegile bro…”

“Weleh, Starry Nights masih jauh lebih keren dibanding Persistence of Memory ini…”

Ketiga kalimat tersebut menunjukkan bagaimana kehidupan pilihan sekarang sangatlah bergantung pada kondisi temporal. Tidak sedikit kita temukan individu melestarikan keris maupun kitab lama. Banyak sekali kita temukan individu mengoleksi kumpulan album musisi lama. Sebagian besar individu bahkan menyimpan lukisan klasik yang eksistensinya sekitar 2 sampai 3 abad yang lalu. Namun, di sisi lain keadaan jaman sekarang yang lebih kompleks telah meningkatkan popularitas seniman dan bisnis modern. Komunitas pecinta mungkin tidak se-masif sedia kala, tetapi popularitas melejit layaknya kecepatan cahaya. Kejadian-kejadian tersebut terlihat sepele, namun dampaknya secara makroskopis dan tidak langsung akan segera timbul.

Seniman yang merupakan seorang homo sapiens akan beradaptasi terhadap dinamika temporal dan spasial. Mau tidak mau, mereka dipaksa untuk melakukan perubahan yang berdampak serius terhadap popularitas mereka. Komunitas pendukung yang bersifat sangat mengagungkan konsistensi serta konservatif akan sensitif hingga menolak seni baru dan lebih mengagungkan seni lama. Seniman yang mengadopsi perubahan sebagian besar kehilangan pendukung lamanya, dengan memperoleh pendukung baru yang sifatnya cukup masif.

Dinamika dan Konsistensi sebagai konsep peradaban telah tergambar pada ideologi politik progresif dan konservatif. Meng-agungkan perubahan akibat desakan-desakan sosial modernisme mendorong pembentukan politik progresif. Sementara kecintaan terhadap folklor dan norma serta adat istiadat tertanam pada politik konservatif. Sifat keduanya bersifat sangat destruktif yang dapat meluluhlantahkan kebebasan atas perang dikotomi tanpa akhir. Dinamika dan Konsistensi telah meluapi bidang-bidang vital dalam pembentukan peradaban manusia tidak lain adalah agama, ilmu pengetahuan, ideologi dan kebudayaan. Proses asimilasi dan akulturasi sebagai bentuk dinamika mengalami problematika tersendiri terhadap sistem generalisasi yang menyimpang dari kepercayaan minoritas. Perbedaan pengambilan data empirik yang membanjiri ilmu pengetahuan atas konseptualisasi dinamika telah menyongsong konflik dalam pembentukan fakta duniawi. Dinamika dan Konsistensi menjadi hal yang tidak terpisahkan selayaknya Yin dan Yang. Yang hingga saat ini terus membanjiri peradaban manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s